Pakar Ungkap Nomor Kamar Hotel yang Wajib Dihindari, Ini Alasannya
Memilih kamar hotel menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan saat merencanakan liburan. Selain mempertimbangkan pemandangan, fasilitas, dan ukuran tempat tidur, wisatawan juga perlu memperhatikan lokasi kamar agar dapat beristirahat dengan nyaman.
Seorang pakar perjalanan, Amir Sudra dari Europe Private Tours mengungkapkan, nomor kamar hotel yang biasanya ia perhatikan saat check-in, yakni kamar dengan angka terakhir 1. Contohnya, kamar 101, 201, 301, atau 401.
Menurut Amir, berdasarkan pengalamannya bepergian ke berbagai negara di Eropa dan menginap di beragam hotel, kamar dengan nomor tersebut kerap berada dekat lift, tangga, atau awal koridor. Meski tidak berlaku di semua hotel, posisi tersebut berpotensi membuat tamu lebih sering mendengar suara orang yang berlalu-lalang.
"Saya selalu memperhatikan dua kali ketika diberi kamar yang berakhiran 01. Bukan karena saya percaya takhayul atau karena nomor itu memiliki arti khusus. Alasannya, di banyak hotel, kamar tersebut sering berada dekat lift, tangga, atau awal koridor," jelas Amir, dikutip dari Glasgow Live.
Kamar yang berada dekat lift atau tangga berpotensi terdengar lebih bising karena menjadi jalur keluar-masuk tamu. Suara pintu lift, koper yang diseret, hingga pengunjung yang kembali setelah makan malam dapat mengganggu waktu istirahat.
Aktivitas staf hotel pada pagi hari juga bisa menjadi sumber kebisingan, terutama jika kamar berada dekat area penyimpanan perlengkapan kebersihan atau jalur operasional.
Menurut Amir, persoalan ini dapat lebih terasa di sejumlah hotel tua di Eropa yang belum tentu memiliki sistem kedap suara modern.
Ia mengatakan, tata letak hotel dapat memengaruhi pengalaman menginap secara keseluruhan. Hotel yang memiliki desain menarik dan lokasi strategis sekalipun belum tentu memberikan istirahat yang nyaman jika kamar berada di area yang ramai.
Selain kamar berakhiran 01, Amir menyarankan wisatawan memperhatikan kamar yang berdekatan dengan lift, tangga, mesin es, lemari perlengkapan kebersihan, bar, restoran, pusat kebugaran, dan ruang konferensi.
Kamar yang memiliki pintu penghubung dengan kamar sebelah juga perlu dipertimbangkan karena suara dari tamu lain berpotensi lebih mudah terdengar.
Menurut Amir, nomor kamar sebenarnya hanya petunjuk awal. Hal terpenting adalah memperhatikan posisi kamar dan aktivitas di sekitarnya.
Untuk mengurangi risiko mendapatkan kamar yang bising, Amir menyarankan wisatawan menyampaikan permintaan kepada resepsionis sebelum menerima kunci kamar.Wisatawan bisa meminta kamar yang jauh dari lift atau tangga, berada di lantai lebih tinggi, dan tidak menghadap jalan utama yang ramai.
"Sebaiknya tanyakan sebelum naik ke kamar. Setelah membuka koper, mengisi daya ponsel, dan mulai menetap, pindah kamar akan terasa lebih merepotkan," ujarnya.
Jika sudah masuk kamar dan menyadari lokasinya terlalu bising, wisatawan juga bisa kembali ke resepsionis dan menanyakan kemungkinan pindah ke kamar lain.
Kendati demikian, Amir mengingatkan pelancong agar tak terpaku pada nomor berakhiran 01. Namun, mintalah kamar yang tenang dan sesuai kebutuhan.
(dsd/asr)