Sarapan Cokelat Baik untuk Pascamenopause? Ini Studinya

CNN Indonesia
Senin, 19 Okt 2026 07:30 WIB
Sarapan cokelat ternyata membawa manfaat lebih bagi perempuan dalam fase pascamenopause.
Ilustrasi. Sarapan cokelat ternyata membawa manfaat lebih bagi perempuan dalam fase pascamenopause. (Istockphoto/solidcolours)
Daftar Isi
Jakarta, CNN Indonesia --

Makanan manis termasuk cokelat biasanya dihindari orang-orang yang sedang menjaga kadar gula darahnya, terutama saat sarapan. Namun cokelat rupanya menawarkan banyak manfaat bagi perempuan yang sudah mengalami menopause. Kok, bisa?

Pada dasarnya, cokelat itu sendiri memang memiliki sejumlah manfaat bagi tubuh. Salah satunya kandungan polifenolnya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut sebuah studi di jurnal Oxidative Medicine and Cellular Longevity pada 2012, disebutkan polifenol pada kakao bisa mengurangi risiko kematian akibat penyakit kardiovaskular, mencegah inflamasi, gangguan metabolisme, hingga kanker.

Lalu, apa manfaatnya sarapan cokelat bagi perempuan setelah menopause? Simak ulasan berikut ini:

Sarapan cokelat turunkan gula darah dan lingkar perut

Menurut sebuah studi yang diterbitkan di The FASEB Journal (2021), mengonsumsi cokelat di pagi hari dapat menurunkan lingkar pinggang perempuan pascamenopause.

Sebanyak 19 perempuan yang berada di fase pascamenopause berpartisipasi dalam studi tersebut. Mereka mengonsumsi 100 gram cokelat susu yang mengandung 542 kalori per porsi selama dua minggu.

Para peserta dibagi dalam kelompok yang mengonsumsi cokelat susu pada satu jam setelah bangun tidur, satu jam sebelum tidur, dan tidak mengonsumsi cokelat sama sekali.

Para peneliti memang tidak menemukan perubahan signifikan pada berat badan di semua kelompok. Namun kadar glukosa puasa lebih tinggi 4,9 persen pada kelompok yang mengonsumsi di malam hari ketimbang pagi hari.

Adapun mengonsumsi cokelat di pagi hari malah menurunkan kadar glukosa puasa sebesar 4,4 persen dibanding yang tak mengonsumsinya sama sekali.

Selain itu, perempuan yang sarapan cokelat juga mengalami penurunan lingkar pinggang hingga 1,7 persen dan melaporkan merasa kurang lapar seharian.

Meski hasilnya menggembirakan, ahli gizi Avery Zenker mengingatkan ini merupakan penelitian skala kecil. Perlu ada penelitian lebih lanjut untuk membuktikan klaim studi ini.

"Bukti yang ada menunjukkan, flavanol dalam kakao memiliki efek antioksidan yang dapat meningkatkan kesehatan metabolisme dan sensitivitas insulin," kata Zenker, dilansir Woman's World.

Adapun kandungan polifenol dalam cokelat susu tak lebih tinggi ketimbang cokelat hitam. Namun Zenker juga setuju mengonsumsi cokelat di pagi hari bisa mengurangi keinginan untuk konsumsi makanan manis.

Menikmati makanan manis di pagi hari ternyata dapat membantu mengurangi perasaan kekurangan makanan.

"Peserta yang mengonsumsi cokelat di pagi hari mungkin telah mengonsumsi sebagian besar kalori harian mereka di awal hari dibandingkan dengan mereka yang makan cokelat di malam hari," tutur Zenker.

Cara makan cokelat di pagi hari

Zenker memberikan tips bagaimana cara sarapan dengan cokelat agar tetap bisa mendapat manfaatnya tanpa perlu kelebihan kalori dan asupan gula.

1. Pilih cokelat hitam

Ketimbang makan cokelat susu, cobalah pilih cokelat hitam atau yang kadar kakaonya lebih tinggi. Menurut Zenker, manfaat kesehatan cokelat hitam lebih konsisten.

"Cokelat hitam juga biasanya lebih rendah gula dan lebih tinggi serat, yang cenderung lebih baik untuk gula darah daripada cokelat susu. Pilihlah cokelat hitam dengan setidaknya 75 hingga 80 persen padatan kakao, karena mengandung lebih banyak flavonol," tutur Zenker.

2. Pasangkan dengan serat dan protein

Untuk memaksimalkan manfaatnya, padukan cokelat hitam dengan serat dan protein saat sarapan untuk memperlambat respons gula darah. Zenker merekomendasikan 20-30 gram cokelat ke sarapan seimbang yang mengandung protein dan serat.

"Serat ditemukan dalam sayuran, buah-buahan, biji-bijian utuh, kacang-kacangan, dan biji-bijian," ucap Zenker.

Itu dia manfaat sarapan cokelat dan bagaimana cara mengonsumsinya bagi perempuan pascamenopause. Bagi yang memiliki kondisi khusus seperti diabetes, sebaiknya konsultasikan terlebih dahulu tambahan asupan ini dengan dokter terkait.

(rti)