Orang yang selingkuh biasanya lebih mudah berbohong. Tak hanya berbohong kepada pasangan, ia terkadang membohongi dirinya sendiri untuk memvalidasi perilakunya.
Dari perspektif psikologi, ada beberapa pemikiran yang selalu berputar di kepala seseorang sebelum ia benar-benar selingkuh. Apa saja itu?
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
1. "Hubungan ini sudah tidak memuaskan."
Alasannya beragam, seperti pasangan lupa menanyakan kabar, tidak ingat tanggal ulang tahun pernikahan, atau enggan pergi bersama. Kekecewaan kecil itu lalu ditumpuk seolah menjadi bukti hubungan sudah tidak berjalan baik.
Menurut laman Bolde, hubungan yang mengecewakan belum tentu tak bisa diperbaiki. Ketika seseorang terus mencari kekurangan pasangan, ia lebih mudah menganggap perhatian dari orang lain sebagai sesuatu yang pantas diterima.
2. "Semua orang juga melakukannya."
Sebelum benar-benar berselingkuh, seseorang mencoba mengumpulkan banyak anekdot perselingkuhan, mulai dari cerita sahabat sendiri, obrolan rekan kerja, atau di lingkungan sekitar.
Ia berusaha menormalisasi hal tersebut hingga akhirnya merasa lumrah jika ikut melakukannya. Dari sana muncul anggapan kalau orang lain bisa melewatinya, hubungannya pun akan baik-baik saja.
Namun, sesuatu yang kerap diceritakan orang lain, bukan berarti tidak menyakitkan bagi pihak yang dikhianati.
3. "Aku bisa berhenti kapan saja."
Seseorang mungkin merasa masih memegang kendali karena pernah menunda membalas pesan atau membatalkan pertemuan dengan calon selingkuhan. Ia berhasil meyakinkan diri, kedekatan itu hanya sementara dan bisa diakhiri ketika sudah tak lagi menyenangkan.
Masalahnya, keputusan untuk berhenti itu juga terus ditunda. Makin lama hubungan tersebut berlangsung, makin banyak perasaan, kebiasaan, dan kebohongan yang terlibat. Apa yang dianggap mudah dihentikan pun perlahan jadi makin rumit.
4. "Ini bukan sepenuhnya salahku."
Mengakui pengkhianatan sebagai keputusan diri sendiri terasa berat. Mengutip Your Tango, orang hendak selingkuh cenderung menyalahkan kesibukan pasangan, pertengkaran yang berulang, atau kurangnya perhatian di rumah.
Alasan-alasan tersebut dapat menjelaskan mengapa ia merasa tidak bahagia, tetapi bukan berarti menghapus tanggung jawab atas tindakannya.
5. "Aku tidak bermaksud sampai sejauh ini."
Memang, tak semua orang berniat berselingkuh sejak awal. Kedekatan bisa bermula dari percakapan yang terasa akrab, lalu berkembang menjadi chat pribadi dan pertemuan diam-diam.
Karena setiap langkah itu tampak kecil, seseorang mungkin tidak menyadari kapan ia sudah melewati batas. Namun, tidak merencanakannya sejak awal bukan berarti ia tak punya kesempatan untuk berhenti saat hubungan itu sudah mulai mengancam komitmennya.
6. "Pasti tidak akan ketahuan."
Keyakinan bahwa semuanya bisa dirahasiakan, membuat seseorang berani memutuskan untuk selingkuh. Ia merasa sudah cukup hati-hati menghapus pesan, mengatur waktu, atau menyiapkan alasan.
Sekalipun memang berhasil mengelabui pasangan, tetap saja ada komitmen dan kepercayaan yang sudah dilanggar. Pada akhirnya, alasan-alasan dalam pikiran tidak mengubah dampak perselingkuhan ataupun tanggung jawab untuk memilih dengan jujur.
Jika pikiran-pikiran di atas mulai mengganggu kepalamu, segera ambil jarak dan pikirkan perasaan pasanganmu. Lebih baik memutus komunikasi sebelum perselingkuhan benar-benar terjadi.
(rti)
