MRT Jakarta, dari Transportasi Harian hingga Tempat Menghabiskan Waktu

Angela Merici Keraf | CNN Indonesia
Jumat, 16 Okt 2026 16:56 WIB
MRT Jakarta menjadi salah satu penggerak utama mobilitas warga menuju Blok M. (CNN Indonesia/Adi ibrahim)
Ilustrasi MRT Jakarta. MRT bukan sekadar sarana menuju kantor. Bagi warga Jakarta, perjalanan juga menjadi cara menikmati kota, bertemu orang, hingga mencari ruang untuk berdiam diri. (CNN Indonesia/Adi ibrahim)
Daftar Isi
Jakarta, CNN Indonesia --

Di tengah kesibukan Jakarta, perjalanan dengan MRT tak melulu soal berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Bagi sebagian orang, kereta menjadi sarana menuju kantor, sementara bagi yang lain, perjalanan justru membuka kesempatan untuk menikmati sudut-sudut kota.

Pada jam sibuk, penumpang memenuhi gerbong, duduk atau berdiri sambil menunggu stasiun tujuan diumumkan. Sebagian bersiap turun menuju gedung-gedung perkantoran di Sudirman dan Setiabudi. Sebagian lainnya turun di Bundaran HI untuk melanjutkan aktivitas di kawasan Thamrin.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tak sedikit pula yang memilih Blok M, kawasan yang belakangan ramai diperbincangkan di media sosial.

Belakangan, perjalanan dengan MRT juga kerap menjadi bagian dari kegiatan itu sendiri. Ada yang berburu tempat makan viral, mengumpulkan stempel dari satu stasiun ke stasiun lain, atau mencari ruang terbuka buat sekadar duduk santai.

MRT Jakarta memang menjadi salah satu pilihan untuk menjangkau berbagai tempat tersebut. Namun, di balik perjalanan yang berakhir saat pintu kereta terbuka, ada cerita lain tentang cara orang memilih menghabiskan waktu di tengah hiruk-pikuk kota metropolitan.

Bagi sebagian orang, MRT adalah sarana untuk berangkat kerja. Bagi yang lain, perjalanan dengan kereta menjadi bagian dari pengalaman menikmati Jakarta, mulai dari bertemu teman hingga sekadar mencari tempat untuk melepas penat.

Menghitung ongkos perjalanan

Bagi Ayu (28), seorang pekerja kantoran, memilih transportasi untuk pergi bekerja juga berarti menghitung pengeluaran sehari-hari. Menurut dia, menggunakan MRT lebih hemat dibandingkan membawa mobil pribadi.

"Lebih murah naik MRT daripada bawa mobil. Kalau pakai mobil, Tol PP minimal Rp35 ribu, parkir seharian minimal Rp40 ribu, bensin Rp50 ribu sehari," katanya saat berbincang dengan CNNIndonesia.com beberapa waktu lalu.

Namun, ongkos perjalanan tidak selalu berhenti pada harga tiket. Bagi mereka yang tinggal jauh dari stasiun, biaya untuk mencapai titik keberangkatan dan melanjutkan perjalanan menuju kantor juga perlu diperhitungkan.

Nisrina (24), misalnya, harus menempuh perjalanan pulang-pergi dari Ciputat menuju Setiabudi. Ia menggunakan MRT dari Stasiun Lebak Bulus, tetapi masih perlu mengandalkan ojek daring untuk mencapai stasiun dan melanjutkan perjalanan ke kantor.

"Gue PP Ciputat-Setiabudi naik MRT dari Lebak Bulus, dan setiap ke MRT-nya gue naik Gojek 4x, rumah-Lebak Bulus, Setiabudi-kantor. Jadi setiap ke kantor ongkos aja bisa Rp100 ribu," cerita Nisrina saat diwawancarai pada Kamis (15/10).

Bagi Nisrina, MRT menjadi bagian dari perjalanan harian, tetapi bukan satu-satunya moda transportasi yang digunakan. Ongkos menuju stasiun dan dari stasiun ke kantor ikut menambah pengeluaran setiap kali bekerja.

Di sisi lain, ada pengguna yang menganggap pengeluaran tambahan tersebut sepadan dengan kenyamanan yang diperoleh.

Frans (25), seorang pekerja kantoran, memilih transportasi umum untuk menghindari kelelahan akibat kemacetan setiap hari. Baginya, perjalanan yang lebih nyaman turut memengaruhi kondisi fisik dan mental sebelum memulai aktivitas.

"Supaya waras terus, mending naik transportasi umum sih, walaupun harus keluarin duit lebih. Naik kendaraan pribadi bisa gila gua macet-macetan terus, belum lagi orang-orang ga sabar, tukang klakson," tuturnya.

Pilihan menggunakan MRT, dengan demikian, bukan semata-mata persoalan cepat atau lambat sampai di tujuan. Ada pula pertimbangan mengenai biaya, kenyamanan, dan energi yang tersisa untuk menjalani aktivitas sepanjang hari.

Dari stasiun ke sudut kota

Suasana di transportasi umum MRT Jakarta.Suasana di transportasi umum MRT Jakarta. (CNN Indonesia/Adi ibrahim)

Di tengah beragam pertimbangan tersebut, MRT menjadi bagian dari mobilitas harian warga Jakarta. Data PT MRT Jakarta mencatat sebanyak 4,5 juta pelanggan menggunakan layanan MRT sepanjang Juni 2026, dengan rata-rata 150 ribu pelanggan per hari.

Pada hari kerja, rata-rata jumlah pelanggan mencapai 167 ribu orang per hari. Sementara itu, pada akhir pekan, jumlahnya rata-rata 114 ribu pelanggan per hari.

Stasiun Dukuh Atas BNI mencatat 780 ribu pelanggan pada bulan yang sama. Angka tersebut diikuti Stasiun Blok M BCA dengan 518 ribu pelanggan, Stasiun Bundaran HI Bank Jakarta dengan 482 ribu pelanggan, serta Stasiun Lebak Bulus BSI dengan 470 ribu pelanggan.

Data MRT Jakarta juga menunjukkan bahwa perjalanan antara Stasiun Dukuh Atas BNI dan Stasiun Blok M BCA menyumbang 4,43 persen dari total perjalanan yang dilaporkan pada Juni 2026.

Angka-angka tersebut memperlihatkan peran MRT dalam menghubungkan berbagai kawasan aktivitas di Jakarta. Namun, stasiun dan jalur kereta bukan hanya titik keberangkatan dan kedatangan.

Di sejumlah tempat, akses transportasi turut membuka peluang bagi orang untuk melakukan kegiatan di luar rutinitas pekerjaan.

Salah satu kawasan yang memperlihatkan dinamika tersebut adalah Blok M.

Blok M, tempat bertemu dan menghabiskan waktu

Masyarakat menggunakan transportasi umum MRT JakartaMasyarakat menggunakan transportasi umum MRT Jakarta. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)

Blok M memiliki daya tarik yang melampaui fungsinya sebagai kawasan yang dilalui penumpang MRT. Di antara tempat makan, toko, dan ruang berkumpul, kawasan ini menjadi tujuan bagi mereka yang ingin menghabiskan waktu di luar rumah.

Ada yang datang bersama teman, mencoba makanan yang ramai dibicarakan di media sosial, atau sekadar berjalan-jalan tanpa rencana yang terlalu pasti. Bagi sebagian orang, Blok M menjadi tempat untuk bertemu dan menikmati waktu luang tanpa harus pergi jauh dari pusat kota.

Bagi Fajar, kawasan ini juga memiliki fungsi praktis sebagai tempat bertemu pelanggan yang membeli barang melalui sistem cash on delivery (COD).

"Strategis karena moda transportasi Blok M yang naik MRT. Kebetulan saya emang sering COD-an, pelanggan saya banyak dari Jabodetabek kan ya, transportasinya mudah," ujarnya.

Bagi Fajar, kemudahan akses transportasi menjadi salah satu pertimbangan dalam menentukan lokasi transaksi. Pelanggannya berasal dari berbagai wilayah Jabodetabek, sehingga tempat yang mudah dijangkau membantu penjual dan pembeli bertemu.

Semua cerita ini menunjukkan bahwa akses transportasi dapat mendukung beragam kegiatan, tidak terbatas pada perjalanan menuju tempat kerja. Stasiun dan kawasan di sekitarnya juga dapat menjadi titik temu untuk urusan bisnis, kegiatan sosial, hingga rekreasi.

Hubungan antara aksesibilitas dan kegiatan di luar pekerjaan turut dibahas dalam penelitian berjudul "Space-time accessibility supports participation in after-work leisure activities" yang diterbitkan dalam Journal of Transport Geography pada 2026.

Penelitian tersebut mengkaji hubungan antara aksesibilitas ruang dan waktu dengan partisipasi pekerja dalam kegiatan rekreasi setelah jam kerja. Peneliti melihat bagaimana lokasi, waktu yang tersedia, dan kemudahan menjangkau berbagai tempat berkaitan dengan keragaman aktivitas rekreasi serta durasi waktu yang dihabiskan untuk melakukannya.

Gagasan dasarnya sederhana, kesempatan menikmati waktu luang tidak hanya bergantung pada keinginan seseorang. Tempat yang dapat dijangkau dan waktu yang tersedia turut menentukan aktivitas yang bisa dipilih.

Meski demikian, kemudahan akses tidak serta-merta membuat semua orang memiliki kesempatan yang sama. Biaya perjalanan, jarak rumah ke stasiun, serta waktu yang dibutuhkan untuk berpindah moda tetap menjadi pertimbangan.

Bagi sebagian orang, perjalanan dengan MRT mungkin terasa praktis. Namun, bagi mereka yang masih harus menempuh perjalanan tambahan dengan ojek daring atau moda transportasi lain, waktu dan biaya yang dikeluarkan tetap menjadi bagian dari perhitungan sehari-hari.

Ada juga yang datang untuk sekadar diam

Di luar urusan pekerjaan, transaksi, dan berburu kuliner, ada pula orang yang menikmati MRT dengan cara yang lebih sederhana, duduk, memperhatikan sekitar, atau sekadar melamun.

Dalam percakapan di dunia maya, seorang pengguna mengaku menyukai suasana Stasiun MRT Fatmawati, terutama ketika bisa menikmati senja. Pengguna lain bercerita pernah menghabiskan waktu dengan bengong di stasiun pada pekan terakhirnya di Jakarta sebelum mengundurkan diri dari pekerjaan.

Ada pula yang lebih menyukai suasana sepi di bagian ujung Stasiun Lebak Bulus.

"Enakan bengong di Stasiun Lebak Bulus, duduk di ujung. Soalnya sepi," tulis Dani.

[Gambas:Video CNN]

Bagi orang lain, pengalaman menggunakan MRT bahkan bisa menghadirkan kesan tersendiri. Seorang pengguna menggambarkan pengalaman pertamanya naik MRT seperti sedang berada di luar negeri. Pengguna lain menyebut MRT sebagai cara untuk merasakan suasana Singapura tanpa harus mengeluarkan banyak uang.

Tentu, kesan tersebut bersifat personal. Pengalaman setiap orang saat menggunakan MRT bisa berbeda, bergantung pada tujuan perjalanan, suasana hati, hingga hal-hal kecil yang ditemui sepanjang jalan.

Namun, cerita-cerita itu menunjukkan bahwa pengalaman menggunakan transportasi tidak selalu berhenti pada seberapa cepat seseorang tiba di tujuan. Ada suasana, kebaruan, dan kenangan yang ikut melekat pada perjalanan.

Di tengah kota yang bergerak cepat, MRT mungkin menjadi sarana bagi sebagian orang untuk mengejar waktu, menghemat biaya, atau menghindari kemacetan.

Bagi yang lain, perjalanan dengan kereta justru memberi kesempatan untuk bertemu teman, menjelajahi sudut kota, atau berhenti sejenak dari rutinitas.

(anm/tis)