Baru-baru ini Selena Gomez mengakui penggunaan vape mengubah suaranya. Penyanyi berusia 34 tahun itu membagikan pengalamannya melalui Instagram Stories pada Minggu (18/10).
"Saya tidak akan bisa mengubah suara saya... Saya dulu banyak menggunakan vape nikotin," ujar Gomez, seperti diwartakan People.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Gomez sendiri menekankan penggunaan nikotin yang membuat suaranya berubah. Ia sendiri mengalami kesulitan untuk berhenti, sehingga menyarankan banyak orang untuk berpikir kembali ketika ingin mencoba vape.
"Nikotin sangat sulit dihentikan, dan saya pikir saya hanya ingin mengatakan, jika kamu sedang mengalaminya atau bahkan ingin mencoba vape, itu sama sekali tidak sepadan," ucap Gomez.
Pengakuan tersebut memunculkan pertanyaan lanjutan. Bisakah vape memengaruhi suara? Sejumlah penelitian menunjukkan potensi dampaknya terhadap pita suara, meskipun tidak dapat memastikan penyebab perubahan suara Gomez secara pribadi.
Bisakah vaping memengaruhi perubahan suara?
Sebuah studi oleh Juliana Ceglio Monteiro et al. dalam Journal of Voice pada Agustus 2025 membahas pengaruh rokok elektrik terhadap kualitas suara serta sistem yang berperan dalam produksi suara.
Hasil studi dengan tinjauan literatur integratif yang menelaah 20 penelitian serupa ini, menunjukkan penggunaan rokok elektrik dapat menyebabkan peradangan pada lapisan epitel dan mukosa pita suara.
Komponen di dalamnya juga dapat menimbulkan kekeringan, sehingga mengganggu keseimbangan kondisi yang diperlukan agar pita suara berfungsi dengan baik.
Menurut studi tersebut, selain berpotensi memperburuk kualitas suara, penggunaan vape dapat meningkatkan risiko batuk dan kesulitan bernapas. Peradangan ataupun kekeringan pada pita suara bisa mengganggu proses pembentukan suara.
Meski demikian, peneliti menekankan perlunya penelitian lebih kuat untuk memahami dampak penggunaan rokok elektrik secara terus-menerus dalam jangka pendek, menengah, dan panjang.
Temuan ini juga belum membuktikan bahwa perubahan suara seseorang pasti disebabkan oleh vape.
Rokok konvensional lebih berdampak pada kualitas suara
Studi lain yang dilakukan Birgül Tuhanioğlu et al. dalam Journal of Voice pada September 2019, berusaha membandingkan kualitas suara pengguna vape, perokok konvensional, dan orang yang tidak pernah merokok.
Penelitian tersebut melibatkan 81 laki-laki sehat, yang terdiri atas 21 pengguna rokok elektrik, 30 pengguna rokok biasa, serta 30 orang yang tidak pernah merokok.
Hasilnya, pengguna rokok konvensional melaporkan lebih banyak gangguan suara. Pada pengukuran tertentu, keras-lemahnya suara mereka juga lebih tidak stabil, sedangkan suaranya memiliki lebih banyak unsur derau.
Namun, tidak semua parameter menunjukkan perbedaan bermakna secara statistik. Tinggi-rendah nada dan beberapa ukuran kestabilan suara tidak berbeda signifikan antarkelompok.
Dalam studi ini, dampak vape terhadap suara terlihat lebih ringan dibandingkan rokok konvensional. Namun temuan ini bukan berarti menandakan vape aman.
Penelitian ini hanya melibatkan sedikit peserta laki-laki dan dilakukan pada satu waktu. Oleh karena itu, hasilnya belum dapat memastikan hubungan sebab-akibat ataupun dampak jangka panjang.
Namun pengalaman Gomez menjadi pengingat untuk tidak mengabaikan perubahan suara, terutama bila keluhan menetap atau disertai gangguan tenggorokan. Pemeriksaan dokter diperlukan untuk mengetahui penyebabnya.
(rti)
