Adakah Efek Samping Imunisasi Polio Tetes? Ini Penjelasannya
Imunisasi polio menjadi salah satu upaya penting untuk melindungi anak dari penyakit polio yang dapat menyebabkan kelumpuhan. Vaksin ini tersedia dalam bentuk tetes melalui mulut atau oral polio vaccine (OPV), serta suntikan.
Jenis vaksin polio tetes diberikan langsung melalui mulut dan mengandung virus polio yang telah dilemahkan. Vaksin ini membantu tubuh membentuk kekebalan terhadap virus polio sekaligus mendukung upaya mencegah penyebaran penyakit.
Meski penting untuk melindungi anak, orang tua terkadang masih khawatir dengan reaksi yang mungkin muncul setelah imunisasi. Lantas, adakah efek samping imunisasi polio tetes dan seberapa aman vaksin ini bagi anak?
Tentu ada efek samping, tetapi Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO menjelaskan, vaksin polio oral aman dan efektif cegah polio.
OPV umumnya dapat ditoleransi dengan baik dan tidak memiliki efek samping ringan yang umum. Artinya, keluhan ringan bukanlah reaksi yang lazim dilaporkan setelah pemberian vaksin ini.
Komplikasi serius sangat jarang terjadi
Salah satu komplikasi serius yang diketahui berkaitan dengan vaksin polio oral, yakni vaccine-associated paralytic poliomyelitis (VAPP). Kondisi ini merupakan polio paralitik yang berkaitan dengan pemberian vaksin polio oral.
Menurut WHO, risiko VAPP diperkirakan sekitar satu kasus dalam setiap 2,7 juta dosis OPV. Angka tersebut menunjukkan, komplikasi ini sangat jarang terjadi.
Diare ringan bisa terjadi, tetapi sangat jarang. Mengutip laman resmi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), diare ringan tanpa disertai demam dapat terjadi setelah pemberian vaksin polio tetes, meskipun sangat jarang.
Orang tua juga tidak perlu langsung menganggap setiap diare yang muncul setelah imunisasi pasti disebabkan oleh vaksin. Penyebab keluhan perlu dinilai berdasarkan kondisi anak dan informasi medis yang tersedia.
Jika anak mengalami diare yang menetap, makin parah, atau disertai gejala lain yang mengkhawatirkan, orang tua sebaiknya berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.
Apa bedanya vaksin polio tetes dan suntik?
Selain vaksin tetes atau OPV, imunisasi polio tersedia dalam bentuk suntikan yang disebut inactivated poliovirus vaccine (IPV).
Keduanya memiliki perbedaan dalam kandungan dan cara pemberian. OPV menggunakan virus polio yang telah dilemahkan, sedangkan IPV menggunakan virus polio yang telah diinaktivasi atau dimatikan.
Perbedaan tersebut membuat informasi mengenai keamanan dan risiko kedua jenis vaksin tidak bisa disamakan begitu saja. Oleh karena itu, orang tua sebaiknya mengikuti jadwal dan jenis vaksin yang dianjurkan petugas kesehatan sesuai program imunisasi serta kondisi anak.
Apa yang perlu diperhatikan orang tua setelah imunisasi?
Kementerian Kesehatan RI menjelaskan, imunisasi polio, baik melalui tetes maupun suntikan, pada umumnya aman. Panduan Kemenkes juga menyebut imunisasi polio umumnya tidak menyebabkan demam.
Sebelum imunisasi, orang tua dapat menyampaikan kepada petugas kesehatan jika anak memiliki riwayat alergi, sedang sakit, atau mempunyai kondisi medis tertentu. Informasi ini membantu petugas menilai kondisi anak dan menentukan langkah yang sesuai.
Setelah imunisasi, orang tua dapat memperhatikan kondisi anak dan mengikuti petunjuk tenaga kesehatan.
Jika anak memuntahkan vaksin polio tetes, jangan langsung mengulang pemberian dosis sendiri. Tanyakan kepada petugas kesehatan mengenai langkah selanjutnya.
Orang tua juga perlu mencari pertolongan medis jika anak mengalami keluhan yang berat, menetap, memburuk, atau menunjukkan gejala yang tak biasa. Penilaian tenaga kesehatan diperlukan untuk menentukan penyebab dan penanganan yang tepat.
Pada dasarnya, efek samping imunisasi polio tetes perlu dipahami berdasarkan bukti keamanan vaksin secara keseluruhan. Karena polio dapat menyebabkan kelumpuhan, imunisasi tetap menjadi langkah penting untuk melindungi anak.
Jika masih memiliki kekhawatiran mengenai efek samping imunisasi polio tetes, Anda dapat berkonsultasi dengan dokter atau petugas imunisasi untuk memperoleh penjelasan sesuai kondisi anak.
(anm/rti)