Minuman Bersoda Juga Bisa Mengandung Kafein, Ini Dampaknya pada Anak

CNN Indonesia
Sabtu, 24 Okt 2026 02:00 WIB
Ilustrasi minuman soda
Ilustrasi. Tingginya konsumsi kafein pada anak dapat menyebabkan durasi tidur yang lebih pendek dan perubahan pada struktur otak. (iStockphoto/Nednapa)
Jakarta, CNN Indonesia --

Kopi kerap menjadi minuman pertama yang terlintas ketika membahas kafein. Padahal, zat stimulan ini juga bisa ditemukan dalam minuman bersoda yang mungkin juga akrab dikonsumsi anak-anak.

Kandungan kafein dalam minuman sehari-hari terkadang luput dari perhatian orang tua. Konsumsi kafein pada anak tidak hanya berkaitan dengan kebiasaan tidur, tetapi juga menjadi perhatian peneliti yang mempelajari perkembangan otak dan kesehatan mental.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Melansir studi dari Institute of Psychiatry, Psychology & Neuroscience, konsumsi kafein yang lebih tinggi pada anak berkaitan dengan durasi tidur yang lebih singkat serta perbedaan kecil pada struktur otak.

Penelitian ini menggunakan data 9.632 anak berusia 9-11 tahun yang mengikuti Adolescent Brain Cognitive Development (ABCD) Study di Amerika Serikat.

Para peneliti mengumpulkan informasi mengenai jumlah minuman berkafein yang biasa dikonsumsi anak setiap minggu, termasuk kopi, teh, dan minuman bersoda. Orang tua juga diminta melaporkan rata-rata durasi tidur anak.

Selanjutnya, peneliti menganalisis hasil pemindaian MRI untuk mengukur ketebalan dan luas permukaan korteks, yaitu lapisan teluar otak yang memiliki fungsi penting.

Di antaranya perhatian, pengambilan keputusan, pemrosesan informasi, hingga pengelolaan emosi.

Hasilnya, anak yang mengonsumsi lebih banyak kafein cenderung memiliki luas permukaan korteks yang lebih kecil.

Perbedaan juga ditemukan antara anak yang mengonsumsi setidaknya satu minuman berkafein per minggu dan anak yang tidak mengonsumsinya.

Meski begitu, temuan ini tidak berarti konsumsi kafein langsung menyebabkan perubahan pada otak anak.

Penelitian tersebut hanya menunjukkan adanya hubungan antara pola konsumsi kafein dan struktur otak, bukan membuktikan hubungan sebab-akibat.


Tak cuma kopi, kafein juga terkandung di soda

Peneliti menemukan bahwa hubungan antara konsumsi kafein dan perbedaan struktur otak sebagian besar didorong oleh konsumsi minuman bersoda.

Temuan ini menjadi pengingat bahwa kafein tidak hanya perlu diperhatikan ketika anak mulai mencoba kopi.

Beberapa minuman bersoda mengandung kafein, meskipun jumlahnya berbeda-beda bergantung pada produk dan ukuran sajian. Karena itu, orang tua dapat memeriksa label kemasan untuk mengetahui kandungan kafein dalam minuman yang dikonsumsi anak.

Perlu diingat pula, konsumsi minuman bersoda bisa berjalan beriringan dengan kebiasaan hidup lain. Peneliti pun belum dapat memisahkan secara pasti pengaruh kafein dari faktor lain yang menyertai konsumsi minuman tersebut.


Kafein pangkas durasi tidur anak

Penelitian ini juga menemukan bahwa anak yang mengonsumsi lebih banyak kafein cenderung tidur lebih singkat. Padahal, tidur yang cukup penting untuk mendukung tumbuh kembang anak, termasuk menjaga perhatian, suasana hati, dan perilaku sehari-hari.

Durasi tidur yang lebih singkat juga berkaitan dengan perbedaan struktur otak yang ditemukan dalam penelitian ini. Kedua temuan tersebut membantu menjelaskan hubungan antara konsumsi kafein dan masalah perhatian, suasana hati, serta perilaku yang dilaporkan enam bulan kemudian.

Dengan demikian, orang tua perlu mulai memperhatikan jenis minuman yang dikonsumsi anak, memeriksa kandungan kafein pada label kemasan, serta membangun kebiasaan tidur yang teratur.

(anm/fef)
placeholder