Meditasi sering dilakukan untuk menenangkan pikiran dan mengurangi stres. Namun, bagaimana jika dilakukan secara intensif selama sepekan? Apakah ada perubahan yang bisa terjadi pada otak dan tubuh?
Melansir Science Daily, penelitian dari University of California San Diego (UCSD) menemukan bahwa program meditasi dan latihan pikiran-tubuh selama tujuh hari berkaitan dengan perubahan aktivitas otak.
Lihat Juga :![]() Hari Kesehatan Mental Sedunia Mindfulness Bukan Berarti Mengabaikan Dunia |
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Studi yang dipublikasikan dalam jurnal Communications Biology ini melibatkan 20 orang dewasa sehat yang mengikuti program meditasi intensif selama tujuh hari. Lantas, apa saja perubahan yang ditemukan peneliti?
1. Aktivitas otak berubah
Peneliti menggunakan pemindaian functional magnetic resonance imaging (fMRI) untuk melihat aktivitas otak peserta sebelum dan setelah mengikuti program. Hasilnya menunjukkan perubahan aktivitas pada sejumlah wilayah otak, termasuk bagian yang berkaitan dengan pikiran internal atau obrolan dalam kepala saat bermeditasi.
Peneliti juga menemukan indikasi peningkatan neuroplastisitas, yaitu kemampuan otak untuk beradaptasi dan membentuk koneksi baru.
Meski menarik, temuan ini belum membuktikan bahwa kemampuan otak peserta meningkat dalam kehidupan sehari-hari.
2. Sistem kekebalan tubuh menunjukkan perubahan
Peneliti juga menemukan perubahan pada sinyal sistem kekebalan tubuh peserta. Sinyal yang berkaitan dengan peradangan maupun respons antiinflamasi sama-sama meningkat setelah program meditasi.
Hal tersebut menunjukkan adanya perubahan aktivitas biologis yang cukup kompleks, bukan sekadar sistem kekebalan menjadi lebih aktif atau lebih tenang.
3. Metabolisme sel ikut berubah
Perubahan juga terlihat pada proses metabolisme, yaitu cara sel mengolah zat untuk menghasilkan energi. Dalam eksperimen laboratorium, sel yang terpapar plasma darah peserta setelah program menunjukkan peningkatan glikolisis, salah satu proses yang digunakan sel untuk mengubah glukosa menjadi energi.
4. Tubuh menunjukkan peningkatan zat pereda nyeri alami
Ilustrasi. Meditasi selama sepekan dapat memengaruhi perubahan tertentu di otak. (iStockphoto/LightFieldStudios) |
Peneliti menemukan peningkatan kadar opioid endogen dalam darah setelah program. Opioid endogen merupakan zat yang diproduksi secara alami oleh tubuh dan berperan dalam mengatur rasa sakit.
5. Pengalaman meditasi terasa lebih mendalam
Selain memeriksa kondisi biologis, peneliti meminta peserta mengisi kuesioner untuk mengukur perubahan kesadaran selama meditasi. Rata-rata skor peserta meningkat dari 2,37 sebelum program menjadi 3,02 setelahnya.
Peserta yang melaporkan pengalaman lebih mendalam juga cenderung menunjukkan peningkatan integrasi aktivitas antardaerah otak. Ini berarti pengalaman subjektif selama meditasi berkaitan dengan pola komunikasi di antara jaringan otak.
6. Pola aktivitas otak menyerupai pengalaman dengan zat psikedelik
Salah satu temuan yang tak kalah menarik adalah pola konektivitas otak setelah meditasi menunjukkan kemiripan dengan pola yang pernah diamati dalam penelitian mengenai zat psikedelik, seperti psilosibin. Zat ini dapat mengubah persepsi dan cara jaringan otak berkomunikasi.
Penelitian ini memberi gambaran bahwa program meditasi intensif yang dikombinasikan dengan latihan pikiran-tubuh dapat berkaitan dengan perubahan di berbagai sistem biologis.
Hanya saja, studi ini masih terbatas karena hanya melibatkan 20 orang dewasa sehat dan mengamati program yang terdiri dari beberapa aktivitas sekaligus. Penelitian lanjutan masih diperlukan untuk mengetahui manfaatnya dalam mendukung kesehatan mental, mengelola nyeri kronis, dan kondisi lainnya.
(anm/asr)


