Nasi Sisa Semalam Dibuat Nasi Goreng, Apakah Lebih Sehat?

CNN Indonesia
Rabu, 21 Okt 2026 04:00 WIB
Nasi Sisa Semalam Dibuat Nasi Goreng, Apakah Lebih Sehat?
Ilustrasi nasi goreng. (iStockphoto/Jian Fan)
Jakarta, CNN Indonesia --

Nasi sisa semalam sering kali disimpan di kulkas untuk dimakan keesokan harinya. Salah satu cara mengolahnya kembali adalah dengan menjadikannya nasi goreng.

Kebiasaan ini mungkin sudah dilakukan sejak lama. Apalagi, nasi yang sudah didinginkan kerap dikaitkan dengan pati resisten yang disebut dapat membantu memperlambat kenaikan gula darah. Lalu, apakah manfaat tersebut tetap ada setelah nasi dingin digoreng kembali?

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ahli gizi Adisty Pavitasari menjelaskan bahwa pati resisten pada nasi dingin cenderung tahan terhadap panas. Menghangatkan nasi kembali tidak serta-merta menghilangkan seluruh kandungan pati resisten di dalamnya.

"Pati resisten pada nasi dingin cenderung memiliki sifat termostabil atau sangat tahan panas. Jika nasi dingin dipanaskan kembali dengan suhu penghangatan biasa, dan tanpa tambahan air, kandungan pati resistennya tidak sepenuhnya hilang," kata Adisty ketika dihubungi CNNIndonesia.com, Senin (19/10).

Ia juga menyebut nasi dingin yang dihangatkan kembali masih berpotensi memiliki indeks glikemik lebih rendah dibandingkan nasi hangat yang baru matang.Indeks glikemik (IG) merupakan ukuran seberapa cepat makanan yang mengandung karbohidrat dapat meningkatkan kadar gula darah.

Apakah kandungan gizi nasi goreng berubah?

Menurut Adisty, kandungan gizi nasi goreng tidak semata-mata ditentukan oleh kondisi nasi yang digunakan, baik dingin maupun hangat. Bahan tambahan selama proses memasak juga turut memengaruhinya.

"Baik nasi dingin, nasi hangat, maupun nasi sisa, nasi tetap memiliki kandungan kalori dan karbohidrat yang kurang lebih sama," sebut Adisty.

Menggunakan nasi dingin tidak otomatis membuat nasi goreng lebih rendah kalori. Jumlah kalori juga bergantung pada bahan yang ditambahkan saat memasak.

Adisty justru mengingatkan bahwa penambahan bahan saat memasak dapat meningkatkan jumlah kalori dalam nasi goreng.

"Namun penambahan minyak goreng, mentega, bumbu dan bahan makanan lainnya selama proses memasak dapat meningkatkan kepadatan kalori (caloric density) akibat penambahan lemak," tuturnya.

Karena itu, untuk membuat nasi goreng dengan gizi lebih seimbang, jumlah minyak serta pilihan lauk dan sayuran juga perlu diperhatikan.

Adisty menyarankan untuk menggunakan minyak secukupnya dan menambahkan protein serta sayuran agar komposisi gizi nasi goreng lebih seimbang.

"Untuk mendapatkan nasi goreng dengan komposisi gizi yang lebih seimbang, perhatikan penggunaan minyak, penambahan protein dan sayuran. Gunakan minyak secukupnya (1-2 sendok teh), dan batasi penggunaan bumbu tinggi garam seperti MSG, kecap, garam, utamakan bumbu alami seperti bawang, cabai, merica untuk memperkuat rasa," saran Adisty.

Ia juga menyarankan penambahan protein rendah lemak, seperti telur, daging ayam suwir, udang, tempe, dan tahu. Sayuran seperti sawi, wortel, dan kubis juga bisa ditambahkan sebagai sumber serat dan antioksidan.

Jadi, nasi dingin yang diolah menjadi nasi goreng tetap bisa menjadi pilihan menu sehari-hari. Kandungan pati resisten pada nasi yang sudah didinginkan juga tidak serta-merta hilang saat dipanaskan kembali.

(anm/asr)