Keberadaan perhiasan mampu memaksimalkan penampilan. Namun kalau asal pakai maka bisa saja malah terkesan berlebihan. Oleh karenanya, ikuti formula praktis 2-1-1 guna mendistribusikan perhiasan agar tidak menumpuk.
Kalung, gelang, cincin, dan anting umum digunakan untuk melengkapi penampilan. Tak jarang ada yang sengaja mengenakan perhiasan sebagai 'pemain utama' dari keseluruhan tampilan, bukan busananya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hanya saja, kamu perlu cukup cermat memadu padan perhiasan. Pakai perhiasan asal atau hanya menekankan pada desainnya yang menarik jelas tidak cukup.
Pun kamu bisa saja merusak penampilan secara keseluruhan saat perhiasan menumpuk. Namun tak perlu bingung sebab ada aturan 2-1-1 yang membantu menyeimbangkan distribusi perhiasan.
Konsep dasar aturan 2-1-1
Menghimpun informasi dari berbagai sumber, aturan 2-1-1 membagi perhiasan menjadi empat bagian dengan peran visual berbeda. Rasio ini umumnya menyarankan rumus penggunaan sebagai berikut.
1. 2 aksesori halus
Aksesori halus berfungsi mendukung tampilan. Contoh aksesori halus seperti, anting model tusuk (stud), cincin tipis, atau gelang yang ramping.
2. 1 aksesori menengah
Aksesori menengah akan menambah daya tarik visual. Biasanya berupa anting model lingkaran (hoop) berukuran sedang atau kalung sederhana dengan liontin.
3. 1 aksesori mencolok (statement piece)
Ilustrasi. Dalam aturan 2-1-1, satu statement piece bertugas menjadi fokus perhatian. Salah satu contohnya kalung berukuran besar. (dispatch.co.kr) |
Aksesori yang mencolok bakal jadi titik fokus yang menarik perhatian atau bagian yang paling berani. Kamu bisa mengenakan chandelier earrings, kalung berukuran besar, atau cocktail ring yang mencolok.
Dengan aturan ini, tiap aksesori bakal menjalankan peran berbeda tanpa saling berkompetisi. Bayangkan jika anting, kalung, dan cincin semua berukuran besar maka yang terjadi mata kesulitan menemukan titik fokus. Penampilan jadi terlalu ramai.
Contoh praktis penerapan aturan 2-1-1, kamu bisa mengenakan dua cincin di satu tangan, satu cincin di tangan lain, lalu satu gelang di tangan yang mengenakan dua cincin. Distribusi ini memastikan perhiasan terlihat di berbagai bagian tubuh alih-alih menumpuknya di satu titik.
(els)

