Apakah Bulu Kucing bisa Memicu Alergi? Ini Penyebab dan Gejalanya

CNN Indonesia
Minggu, 25 Okt 2026 15:00 WIB
Ilustrasi. Reaksi bersin-bersin atau hidung gatal sering dikaitkan dengan bulu kucing. (Istockphoto/Tharakorn)
Jakarta, CNN Indonesia --

Pernahkah seseorang bersin-bersin atau mengalami hidung gatal setelah berada di dekat kucing?

Reaksi tersebut memang sering dikaitkan dengan bulu kucing, tetapi benarkah bulu menjadi penyebab utamanya? Lalu, apakah bulu kucing bisa memicu alergi, atau ada zat lain yang memicu reaksi tubuh tersebut?

Faktanya, bulu kucing dapat membawa alergen. Tetapi, sumber utama pemicunya berasal dari protein tertentu yang terdapat dalam air liur dan kulit kucing. Alergen tersebut bisa menempel pada bulu, serpihan kulit, pakaian, hingga perabot rumah.

Gejalanya pun beragam, mulai dari bersin hingga gangguan pernapasan. Agar tidak salah memahami penyebabnya, simak penjelasan mengenai pemicu, gejala, dan cara mengurangi paparan alergen kucing berikut ini.

Apakah bulu kucing bisa memicu alergi?

Menurut Purina Institute, alergen yang memicu reaksi pada manusia terutama berasal dari kelenjar air liur dan kelenjar sebaceous atau kelenjar minyak pada kulit kucing.

Dalam penjelasannya, Purina Institute menyatakan bahwa bertentangan dengan anggapan umum, bulu kucing bukan penyebab langsung reaksi alergi. Ketika kucing menjilati tubuhnya, protein pemicu alergi berpindah ke bulu dan kulit. Alergen kemudian menyebar ke lingkungan bersama bulu yang rontok dan serpihan kulit mati atau dander.

Menukil dari Mayo Clinic, alergen kucing juga terdapat dalam air liur, urine, dan keringatnya. Partikel alergen berukuran kecil dapat bertahan di udara serta menempel pada pakaian, karpet, dan furnitur.

Gejala alergi akibat paparan kucing

Reaksi alergi muncul ketika sistem kekebalan tubuh menganggap alergen sebagai zat berbahaya. Akibatnya, tubuh memicu respons yang dapat memengaruhi hidung, mata, kulit, dan saluran pernapasan.

Berikut beberapa gejala yang perlu dikenali:

- Gangguan hidung: bersin, hidung berair, hidung tersumbat, atau rasa gatal pada hidung dan tenggorokan.
- Iritasi mata: mata merah, gatal, atau berair.
- Reaksi kulit: kulit gatal, eksim, atau bentol-bentol yang dikenal sebagai biduran.
- Gangguan pernapasan: batuk, mengi, sesak napas, atau dada terasa sesak, terutama pada orang yang juga memilik

(gas/asr)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK