Studi Ungkap 4 Tipe Pemikir, Kamu Termasuk yang Mana?

CNN Indonesia
Jumat, 06 Nov 2026 02:00 WIB
Studi menemukan empat kelompok pemikir berdasarkan hal-hal yang paling sering memengaruhi pikiran mereka.
Ilustrasi. Studi menemukan empat kelompok pemikir berdasarkan hal-hal yang paling sering memengaruhi pikiran mereka. (iStock/Prostock-Studio)
Daftar Isi
Jakarta, CNN Indonesia --

Pernah merasa pikiranmu dipenuhi urusan pekerjaan, sementara temanmu lebih sering memikirkan kondisi dunia atau hal-hal kecil yang terjadi dalam hidupnya? Ternyata, manusia memiliki kecenderungan pola pikir yang berbeda-beda.

Sebuah penelitian yang dilakukan ekonom dari Claremont Graduate University di Amerika Serikat dan Wuhan University di China menemukan empat kelompok pemikir berdasarkan hal-hal yang paling sering memenuhi pikiran mereka.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Melansir dari The Guardian, penelitian tersebut melibatkan 258 orang berusia 19 - 71 tahun. Selama dua minggu, peserta menggunakan aplikasi yang memberikan notifikasi secara acak sebanyak delapan kali sehari. Setiap kali notifikasi muncul, mereka diminta mencatat apa yang sedang dipikirkan, aktivitas yang dilakukan, dan tingkat kebahagiaan mereka.

Dari lebih dari 23 ribu catatan pikiran yang terkumpul, peneliti menemukan empat kelompok. Lantas, seperti apa karakteristik masing-masing kelompok?

1. Worriers: pikiran dipenuhi kekhawatiran

Kelompok pertama disebut worriers, yakni orang-orang yang cenderung lebih sering memikirkan berbagai persoalan dunia, politik, dan masalah sosial.

Menurut penelitian tersebut, mereka memikirkan isu-isu tersebut sekitar 60 persen lebih sering dibandingkan rata-rata peserta. Mereka juga lebih banyak memikirkan keselamatan dan kesehatan, sekitar 50 persen di atas rata-rata.

Pikiran mereka bisa dipenuhi kabar perang, pandemi, hingga berbagai persoalan yang terjadi di sekitar. Menariknya, kelompok ini juga memikirkan musik hampir dua kali lebih sering dibandingkan rata-rata peserta. Peneliti menduga musik mungkin menjadi salah satu cara untuk meredakan beban emosional.

2. Domestics: memikirkan urusan sehari-hari

Berbeda dari worriers, kelompok domestics lebih banyak memikirkan urusan praktis, seperti pekerjaan rumah, keuangan, dan kebutuhan sehari-hari.

Mereka mencurahkan sekitar 50 persen lebih banyak pikiran untuk urusan rumah tangga, pekerjaan domestik, dan keuangan dibandingkan rata-rata peserta.

Meski begitu, pikiran mereka tidak hanya berkutat pada tanggung jawab. Kelompok ini juga cukup sering memikirkan cerita dari film, buku, dan acara televisi.

3. Bodily Thinkers: peka terhadap tubuh dan perasaan

Kelompok bodily thinkers lebih sering memikirkan sensasi fisik, perasaan, dan pengalaman mental yang mereka alami.

Dalam penelitian ini, kelompok tersebut memiliki rata-rata usia paling muda, yakni 32 tahun, dan hampir dua pertiganya perempuan. Mereka juga mencatat tingkat pikiran intrusif atau pikiran yang muncul tanpa diinginkan paling tinggi, yakni 28 persen.

Pikiran mereka kerap berkaitan dengan rasa sakit, kondisi kesehatan, hingga perasaan kewalahan. Peneliti mencatat, kecenderungan ini juga mungkin dipengaruhi kondisi kesehatan fisik atau mental yang dialami peserta selama penelitian.

4. Work-hard, Play-hard: seimbang antara kerja dan hiburan

Kelompok terakhir memiliki pikiran yang banyak berkisar pada pekerjaan sekaligus kegiatan menyenangkan.

Mereka memikirkan pekerjaan sekitar 50 persen lebih sering dibandingkan rata-rata peserta. Di saat yang sama, pikiran tentang hobi, permainan, dan seni juga sekitar 25 persen lebih tinggi.

Kelompok ini tercatat memiliki pendapatan dan skor kebahagiaan tertinggi dibandingkan tiga kelompok lainnya. Jumlah laki-laki di dalamnya juga sedikit lebih banyak daripada perempuan.

Meski demikian, temuan tersebut tidak membuktikan bahwa pola pikir yang berorientasi pada pekerjaan dan hiburan otomatis membuat seseorang lebih bahagia.

Peneliti menegaskan, empat kelompok tersebut bukan kategori kepribadian yang mutlak. Seseorang dapat berpindah dari satu pola ke pola lainnya, bergantung pada situasi dan pengalaman yang sedang dihadapi.

Penelitian ini juga memiliki keterbatasan karena jumlah pesertanya relatif sedikit dan sebagian besar berasal dari kelompok masyarakat di negara Barat yang berpendidikan, maju secara industri, makmur, dan menerapkan sistem demokrasi. Karena itu, hasil penelitian ini belum tentu menggambarkan pola pikir masyarakat di seluruh dunia.

(anm/asr)
LIHAT SELENGKAPNYA