Obesitas tak hanya meningkatkan risiko gangguan metabolik, tetapi juga berkaitan dengan meningkatnya risiko kanker endometrium atau kanker rahim.
Kondisi ini menjadi perhatian dalam penanganan pasien, terutama ketika tindakan operasi diperlukan untuk mengatasi penyakit tersebut.
Salah satu prosedur yang dapat dilakukan dalam penanganan kanker endometrium adalah histerektomi total, yakni operasi pengangkatan rahim beserta leher rahim.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, prosedur ini memiliki tantangan tersendiri pada pasien dengan obesitas sehingga kondisi fisik pasien menjadi salah satu pertimbangan dalam menentukan pendekatan operasi.
Dalam kondisi tersebut, operasi minimal invasif berbantuan robotik seperti da Vinci Xi dapat menjadi salah satu pilihan bagi pasien yang memenuhi kriteria.
Dengan berbagai kecanggihan yang dimiliki, teknologi robotik membantu dokter bekerja lebih presisi di area panggul yang sempit dan kompleks, sekaligus memungkinkan tindakan dilakukan melalui sayatan yang lebih kecil.
Dokter Mayapada Hospital Jakarta Selatan, dr. Fara Vitantri, Sp.OG (K-Onk) menjelaskan, kondisi obesitas perlu menjadi salah satu pertimbangan dalam perencanaan operasi kanker endometrium.
"Pada pasien dengan obesitas, kondisi anatomi dengan dinding perut yang lebih tebal dapat membuat akses ke area panggul menjadi lebih kompleks," kata dr. Fara dalam keterangannya dikutip Selasa (27/10).
Selain itu, kondisi penyerta yang sering menyertai obesitas juga perlu menjadi pertimbangan dalam perencanaan operasi. Di sinilah teknologi robotik dapat membantu dokter dalam melakukan penanganan.
"Dengan visualisasi 3D beresolusi tinggi dan instrumen yang memiliki fleksibilitas serta rentang gerak yang luas, sistem robotik membantu kami bekerja lebih presisi pada area panggul yang sempit dan kompleks," jelas dr. Fara.
Selain mendukung presisi tindakan, kata dia, pendekatan minimal invasif juga dapat memberikan manfaat bagi proses pemulihan pasien.
Di mana sayatan yang lebih kecil dapat membantu mengurangi perdarahan dan nyeri setelah operasi, mendukung mobilisasi lebih cepat, serta pada kondisi yang sesuai memungkinkan masa rawat yang lebih singkat dibandingkan operasi terbuka.
"Bagi pasien kanker endometrium dengan obesitas yang sesuai untuk menjalani operasi robotik, pendekatan ini dapat membantu proses pemulihan sehingga pasien dapat lebih nyaman dan lebih cepat kembali beraktivitas," ujar dr. Fara.
Meski demikian, operasi robotik bukan pilihan otomatis untuk semua pasien. Jenis dan stadium kanker, kondisi kesehatan secara keseluruhan, kompleksitas operasi, serta penilaian dokter tetap menjadi dasar dalam menentukan teknik yang paling sesuai.
"Teknologi robotik bukan semata tentang kecanggihan, tetapi bagaimana teknologi tersebut dapat digunakan secara tepat dan aman sesuai kondisi pasien. Karena itu, robotik dapat menjadi alternatif pendekatan minimal invasif bagi pasien kanker endometrium, termasuk dengan obesitas, yang membutuhkan tindakan operasi," tegas dr. Fara.
Terlepas dari kondisi berat badan dan pilihan teknik operasi, deteksi dini tetap menjadi bagian penting dalam penanganan kanker endometrium.
Menurutnya, pada perempuan yang memasuki atau telah mengalami menopause perlu lebih memperhatikan perubahan pada tubuh, terutama perdarahan vagina setelah menopause, meskipun hanya berupa bercak atau perdarahan ringan.
"Perdarahan vagina setelah menopause merupakan salah satu tanda yang paling sering ditemukan pada kanker endometrium. Gejala ini perlu diperiksakan karena dapat muncul ketika penyakit masih berada pada tahap awal," pungkas dr. Fara.
Penanganan kanker endometrium tidak berhenti pada penentuan teknik operasi. Karena pilihan terapi dapat berbeda pada setiap pasien, kondisi pasien secara menyeluruh perlu menjadi pertimbangan dalam menentukan perawatan.
Mendukung kebutuhan tersebut, Mayapada Hospital menghadirkan Oncology Center dengan pendekatan patient-centered care melalui kolaborasi tim multidisiplin dalam Tumor Board, didukung teknologi pencitraan advanced seperti PET-CT Scan, SPECT Scan, serta tindakan minimal invasif dengan bantuan robot da Vinci Xi yang ada di Mayapada Hospital Jakarta Selatan.
Komitmen pelayanan Walks Every Journey with C.A.R.E (Compassion, Advanced, Responsive, Experts) juga diwujudkan melalui kehadiran Patient Navigator yang membantu pasien dan keluarga memahami serta menjalani setiap tahapan perawatan.
Untuk informasi dan konsultasi lebih lanjut, hubungi Call Center 150770, WhatsApp 0817-17-150770, atau melalui aplikasi MyCare.
(inh)