Pembalut di Skotlandia Gratis, Bagaimana dengan Negara Lain?

CNN Indonesia
Kamis, 29 Okt 2026 15:00 WIB
Sejauh ini, baru Skotlandia yang menggratiskan pembalut secara nasional untuk mengatasi period poverty atau kemiskinan menstruasi.
Ilustrasi. Sejauh ini, baru Skotlandia yang menggratiskan pembalut secara nasional untuk mengatasi period poverty atau kemiskinan menstruasi. (Istockphoto/iamnoonmai)
Jakarta, CNN Indonesia --

Menstruasi merupakan siklus reproduksi yang normal terjadi pada perempuan remaja hingga dewasa, sehingga sering kali dianggap jadi urusan pribadi.

Namun isu menstruasi jadi urusan publik ketika banyak perempuan di dunia tak bisa mengakses pembalut, tampon, hingga bentuk perawatan lainnya terkait menstruasi. Ini acap kali disebut sebagai period poverty atau kemiskinan menstruasi.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut laman UN Women, mengacu pada ketidakmampuan untuk membeli dan mengakses produk menstruasi, fasilitas sanitasi dan kebersihan, serta pendidikan dan kesadaran untuk mengelola kesehatan menstruasi.

Hal ini mengganggu kehidupan sehari-hari perempuan, termasuk hak dan kebebasan mereka. Minimnya akses terhadap pembalut terjangkau, misalnya, bisa membuat perempuan kehilangan waktu belajar di sekolah atau bekerja.

Jadi isu penting, Skotlandia mulai menggratiskan pembalut dan tampon sejak 2020 lalu. Namun bagaimana dengan negara lain?

Skotlandia satu-satunya negara yang menggratiskan pembalut

Mengutip laman NPR, Skotlandia mulai memberlakukan kebijakan pembalut dan tampon gratis sejak November 2020.

Sosok Monica Lennon, anggota parlemen Partai Buruh Skotlandia, yang menjadi pencetus kebijakan melalui RUU Produk Menstruasi. Ia mengupayakan kebijakan ini sejak 2016 untuk mengakhiri kemiskinan menstruasi.

Kini, perempuan di Skotlandia dapat mengakses produk menstruasi di bebagai tempat publik, seperti pusat komunitas, klub remaja, hingga apotek. Sebelumnya, sejak 2017, negara ini juga sudah menyediakan produk menstruasi di semua sekolah.

"Saat krisis biaya hidup makin meningkat, Undang-Undang Produk Menstruasi adalah secercah harapan yang menunjukkan apa yang dapat dicapai ketika para politisi bersatu demi kebaikan masyarakat yang kita layani," ujar Lennon pada 2022 lalu, seperti dikutip dari BBC.

Dengan rata-rata periode menstruasi berlangsung sekitar lima hari, biaya tampon dan pembalut diperkirakan bisa mencapai 8 pound sterling atau Rp193 ribu per bulan. Tak semua perempuan bisa membayar biaya tersebut.

Kebijakan negara lain tentang produk menstruasi

Sejauh ini, Skotlandia jadi negara pertama yang menawarkan produk menstruasi gratis secara nasional. Negara lain, misalnya Selandia Baru dan Kenya, baru sampai tahap mendistribusikan produk pembalut secara gratis di berbagai sekolah negeri.

Mengutip laman Global Citizen, tampon dan pembalut gratis mulai dibagikan di sekolah pada 2021.

Adapun di negara-negara Barat lainnya, terpantau belum ada yang menerapkan kebijakan pemberian pembalut gratis secara nasional. Kebijakan ini baru berlaku di beberapa negara bagian, wilayah, atau daerah tertentu saja.

Di Australia, misalnya, pemerintah mengumumkan rencana pembagian pembalut gratis di semua sekolah negeri pada 2018. Namun skema ini baru dijalankan negara bagian Victoria pada 2020 dan New South Wales pada 2021.

Beranjak ke Amerika Serikat, New York City yang pertama kali mengesahkan UU penyediaan tampon dan pembalut gratis di sekolah pada 2016.

Namun negara bagian lainnya di AS baru mengikuti jejak New York City pada 2018. Beberapa di antaranya, Illinois, Washington, New Hampshire, dan Virginia.

Kebijakan produk menstruasi di belahan dunia lainnya

Ilustrasi. Sejauh ini, baru Skotlandia yang menggratiskan pembalut secara nasional untuk mengatasi period poverty atau kemiskinan menstruasi. (iStockphoto/bymuratdeniz)

Di Kanada, kewajiban sekolah menyediakan produk menstruasi baru dimulai pada 2019 oleh Provinsi British Columbia. Ada beberapa provinsi lain yang mengikuti jejaknya, seperti Nova Scotia, Ontario, dan Prince Edward Island.

Khusus di Prince Edward Island, kebijakan ini meluas di luar sekolah, yakni hingga mencakup tempat penampungan dan bank makanan.

Adapun di wilayah Île-de-France, Prancis, produk menstruasi organik gratis mulai dibagikan di sekolah menengah pada September 2020. Lalu pada Februari 2021, universitas-universitas Prancis diinstruksikan untuk memasang dispenser tampon dan pembalut gratis.

Di benua Afrika, ternyata lebih banyak lagi negara yang menerapkan kebijakan pembalut gratis di sekolah. Di Kenya, misalnya, kebijakan ini mulai berlaku sejak 2018.

Beranjak ke Afrika Selatan, pajak tampon dihapus pada 2018 dan pemerintah berkomitmen menyediakan produk menstruasi gratis di sekolah. Beberapa provinsi sudah menerapkannya.

Di Bostwana, anak perempuan usia sekolah mulai berhak menerima pembalut gratis pada 2017. Lalu Zambia mulai mengimplementasikan pembalut gratis kepada anak perempuan di daerah perdesaan pada 2019.

Keterjangkauan produk menstruasi di berbagai dunia

Pada 2023, sebuah perusahaan perawatan medis online berbasis di AS, PlushCare, menghitung 'biaya menstruasi' dari berbagai negara. Maksudnya, biaya yang harus dikeluarkan perempuan ketika menstruasi, mulai dari pembelian pembalut, tampon, pantyliner, hingga obat pereda nyeri.

Mereka meneliti setiap negara bagian AS dan 107 negara dengan memeriksa gabungan biaya lokal untuk persediaan tampon, pembalut, dan obat pereda nyeri seperti ibuprofen selama satu bulan.

Biaya ini kemudian dibandingkan dengan pendapatan bulanan rata-rata masyarakat setempat, untuk menemukan negara mana yang paling mahal dan murah terkait biaya menstruasi.

Hasilnya, didapat negara Aljazair, Yordania, dan Korea Selatan sebagai negara termahal untuk penyediaan produk menstruasi. Di Aljazair, biaya bulanan mencapai 34,05 dolar (Rp618 ribu), Yordania 26,51 dolar (Rp481 ribu), dan Korsel 25,40 dolar (Rp461 ribu).

Jika dibandingkan dengan pendapatan bulanan rata-rata, Inggris jadi negara dengan produk menstruasi paling terjangkau, yakni 0,12 persen. Disusul AS sebesar 0,2 persen, dengan catatan pendapatan rata-rata per kapitanya memang tergolong tinggi di dunia.

Dipimpin Aljazair (14,80 persen), lima negara yang paling tidak terjangkau di dunia terkait biaya menstruasi, semuanya berada di Afrika. Hal ini disebabkan oleh inflasi yang membuat biaya perlengkapan menstruasi jadi melonjak.

Adapun kemiskinan menstruasi di negara-negara Afrika menyebabkan satu dari 10 anak perempuan terpaksa bolos sekolah karena tak punya akses ke perlengkapan atau fasilitas yang aman dan privat untuk mengatasi menstruasi mereka.

LIHAT SELENGKAPNYA