Topik mengenai Pajak Pertambahan Nilai (PPn) untuk pembalut tengah ramai diperbincangkan di media sosial. Padahal, pembalut seyogianya merupakan kebutuhan biologis perempuan.
Topik ini mulai mencuat di media sosial usai unggahan seorang warganet yang mempertanyakan mengapa pembalut tetap menjadi Barang Kena Pajak (BKP). Dari sana, isu mengenai pajak pembalut pun terus disorot.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Padahal, tak ada satu pun perempuan yang bisa menolak menstruasi. Menstruasi adalah hal biologis yang akan terjadi pada setiap perempuan di mana pun berada.
Pembalut termasuk kebutuhan yang rutin dibeli setiap bulan. Sekali belanja, harganya mungkin terasa tidak seberapa. Namun, karena harus dibeli berulang kali setiap periode haid, pengeluarannya bisa terus bertambah.
Di tengah perbincangan soal harga pembalut dan pajak produk menstruasi, menarik untuk melihat berapa banyak uang yang sebenarnya dihabiskan perempuan untuk memenuhi kebutuhan ini selama setahun.
Menghitung pengeluaran pembalut dalam setahun
Sebelum menghitung total pengeluaran, kita perlu menentukan perkiraan pemakaiannya terlebih dahulu.
Kementerian Kesehatan menyebut, durasi menstruasi bisa berbeda pada setiap perempuan. Pembalut disarankan untuk diganti setiap 4-5 jam dan lebih sering jika darah menstruasi keluar dalam jumlah banyak.
Untuk simulasi ini, kita asumsikan menstruasi berlangsung selama tujuh hari setiap bulan, dengan rata-rata empat lembar pembalut per hari. Ini berarti, kebutuhan pembalut mencapai 28 lembar dalam satu siklus atau 336 lembar dalam setahun.
Pada pembalut ekonomis tanpa sayap dengan panjang 23 sentimeter (cm), kebutuhan per tahunnya bisa mencapai Rp289 ribu.
Pembalut jenis tersebut umumnya dibanderol dengan harga Rp8.500 per kemasan isi 10 lembar. Untuk kebutuhan dalam setahun, perempuan perlu membeli 34 kemasan. Total belanjanya menjadi Rp289 ribu.
Pembalut yang lebih premium dan bersayap juga panjang sekitar 29 cm dijual seharga Rp18.500 per kemasan isi 20 lembar. Untuk memenuhi kebutuhan 336 lembar dalam setahun, konsumen perlu membeli 17 kemasan dengan total Rp314.500.
Pilihan lainnya adalah pembalut berbahan organik yang dijual dengan harga lebih tinggi. Salah satu produk menjualnya seharga Rp72.500 per kemasan isi 10 lembar. Jika kebutuhan mencapai 336 lembar dalam setahun, maka biaya yang dikeluarkan mencapai Rp2.465.000.
Perlu diingat, angka ini hanya digunakan sebagai gambaran untuk membandingkan biaya. Kebutuhan setiap perempuan bisa berbeda, tergantung pada banyaknya darah menstruasi dan seberapa sering pembalut perlu diganti.
Produk Menstruasi yang Dipakai Berulang Bisa Jadi Alternatif?
Ilustrasi. Menstrual cup dianggap sebagai produk menstruasi alternatif. (Istockphoto/gregory_lee)
Dalam kondisi di atas, boleh jadi produk menstruasi lain dianggap sebagai alternatif. Misalnya saja menstrual cup, tampon, dan pembalut kain yang dapat dicuci serta digunakan ulang.
Menstrual cup, misalnya, dibanderol dengan harga sekitar Rp35.000 hingga Rp75 ribu. Anggap saja kita harus menyimpan setidaknya 2-3 menstrual cup sebagai cadangan. Total kebutuhannya menjadi Rp105 ribu atau Rp225 ribu.
Menstrual cup sendiri merupakan produk menstruasi berbahan silikon yang dimasukkan ke dalam vagina saat periode menstruasi. Setelah sampai batas umum pemakaian 8-12 jam, menstrual cup harus dikosongkan dan dicuci.
Atau, ada juga pembalut kain yang bisa dicuci dan digunakan ulang. Satu produk pembalut kain dibanderol dengan harga kisaran Rp25 ribu-Rp30 ribu.
Jika kebutuhan pembalut dalam satu periode mencapai 28 lembar, kita sebenarnya cukup menyimpan 7-10 lembar pembalut kain. Totalnya hanya mencapai Rp300 ribu. Setelah dipakai, pembalut bisa langsung dicuci dan dikeringkan. Setelah kering, pembalut bisa digunakan kembali untuk hari berikutnya.
Sepintas, produk menstruasi seperti menstrual cup dan pembalut kain tampak lebih ekonomis. Tapi, ada faktor risiko yang tersembunyi di baliknya.
Berbeda dengan pembalut sekali pakai yang praktis, menstrual cup harus digunakan secara benar. Pengguna perlu mempelajari cara memasang, melepas, dan menjaga kebersihan.
Salah pemasangan dan faktor sanitasi yang kurang higienis bisa berujung pada risiko kesehatan. Pemasangan atau pelepasan yang terlalu kasar bisa memicu iritasi dan luka pada vagina.
Dalam beberapa kasus, faktor higienitas yang rendah juga bisa memicu infeksi di vagina atau saluran kemih.
Begitu pula dengan pembalut kain yang bisa digunakan berulang. Faktor bahan kain bisa memicu iritasi pada orang yang sensitif, apalagi jika digunakan terlalu lama.
Selain itu, darah menstruasi, kelembapan, dan kondisi hangat pada pembalut kain juga dapat memicu pertumbuhan bakteri dan jamur saat pembalut kain dipakai terlalu lama atau digunakan saat masih dalam keadaan lembap. Proses pencucian yang tidak memadai juga bisa memicu infeksi.
Selain risiko kesehatan, ada juga faktor kebiasaan. Kita telah terbiasa menggunakan pembalut sekali pakai yang dianggap lebih aman dan praktis.
Sebuah studi yang dipublikasikan dalam jurnal Frontiers in Sustainability juga pernah menemukan kebiasaan penggunaan produk menstruasi di Indonesia.
Penggunaan produk menstruasi alternatif seperti menstrual cup masih dianggap tidak praktis. Produk pembalut sekali pakai pun masih jadi pilihan yang banyak digunakan.
Pada akhirnya, perdebatan mengenai pajak pembalut bukan sekadar soal pengeluaran bulanan, tapi juga akses terhadap produk menstruasi yang aman dan terjangkau. Produk alternatif memang bisa menekan biaya, tapi tidak selalu cocok bagi semua perempuan.
Menstruasi sendiri bukan pilihan. Pemenuhan kebutuhan untuk mengelolanya secara higienis seharusnya tak menjadi beban yang diabaikan.

