Terdampar di Kamboja, Mimpi Tinggal di Kapal Sirna Usai Jual Rumah

CNN Indonesia
Sabtu, 31 Okt 2026 08:02 WIB
Terdampar di Kamboja, Mimpi Tinggal di Kapal Sirna Usai Jual Rumah
Ilustrasi kapal pesiar. (Istockphoto/Joel Carillet)
Jakarta, CNN Indonesia --

Pasangan suami istri (pasutri) asal Wyoming, Amerika Serikat (AS), Lynn dan Paul Montoya, harus merelakan tabungan dan rumah impian pensiun mereka sirna usai kapal pesiar mewah atau cruise Villa Vie Odyssey yang mereka tinggali mendadak menghentikan operasionalnya akibat krisis keuangan.

Pasutri tersebut sebelumnya nekat menjual rumah dan mobil mereka di AS demi membeli sebuah kabin kapal seharga US$179 ribu (sekitar Rp3,2 miliar), serta membayar iuran bulanan sekitar US$6.000 (sekitar Rp109 juta) untuk mengarungi samudera di masa pensiun.

Namun, impian indah mengelilingi dunia tersebut hancur berkeping-keping setelah 17 bulan berlayar. Pihak pengelola, Villa Vie Residences, mendadak mengumumkan penangguhan operasional dan mengusir sekitar 200 penumpang di sebuah pelabuhan di Kamboja pekan ini.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Melansir Reuters, para penumpang dipaksa mengosongkan kabin dan mengangkut sendiri barang-barang serta hewan peliharaan mereka dari kapal yang telah dianggap sebagai rumah tinggal tersebut.

"Kami sebenarnya tidak pernah bepergian ke luar Amerika Serikat sebelum naik ke kapal ini. Kami menganggap ini sebagai kesempatan emas untuk melihat dunia," ungkap Paul Montoya kepada Reuters.

Ketidakjelasan masa depan kapal pesiar menjadi pukulan telak bagi para penghuni yang telah menginvestasikan dana ratusan ribu dolar AS demi masa pensiun mereka. Paul meyakini perusahaan telah kehabisan dana untuk membeli bahan bakar dan membayar gaji awak kapal.

"Mereka kehabisan uang. Itulah alasan mengapa mereka tidak bisa membeli BBM. Mereka bahkan kesulitan membayar gaji kru di kapal. Jadi kami benar-benar tidak berharap uang kami kembali," tambah Paul.

Dalam pernyataan resminya pada Selasa (27/10), manajemen Villa Vie Residences mengaku tengah mengupayakan langkah restrukturisasi modal dan pencarian dana segar, kendati tidak ada jaminan bahwa proses tersebut akan berhasil.

Paul membeberkan bahwa tanda-tanda kebangkrutan telah terlihat seiring berkecamuknya konflik dengan Iran yang memicu kenaikan harga bahan bakar. Pihak pengelola sempat meminta para penumpang kapal memberikan pinjaman dana untuk membeli BBM.

Kondisi makin memburuk saat kapal tiba di Kamboja, di mana akses internet diputus total dan kualitas makanan di atas kapal terus merosot sejak tiga bulan terakhir.

Kendati merugi secara finansial, pasutri Montoya kini berencana menetapkan tujuan sementara ke Malaysia menggunakan sisa anggaran bulanan mereka. Sang istri, Lynn, mengaku lebih merasa kehilangan komunitas dan kebersamaan antarpenumpang ketimbang uang yang hangus.

(wiw)
placeholder
LIHAT SELENGKAPNYA