Tak hanya pada orang dewasa, gagal ginjal rupanya jadi momok di kalangan anak. Penyakit tidak menular (PTM) terutama hipertensi dan diabetes jadi faktor risiko gagal ginjal. Namun kesadaran dan pengetahuan orang yang terbatas mengenai PTM membuat penanganan gagal ginjal terbilang terlambat. Pengalaman Agistina Kamila dan M. Rahmat jadi contoh nyata pasien gagal ginjal anak yang datang dalam kondisi ginjal yang sudah parah.
Agistina Kamila, 17 tahun, menghabiskan waktu setidaknya dua kali sepekan untuk cuci darah. Sekolahnya di kelas 3 sebuah SMK di Tangerang untuk sementara terpaksa ditinggalkan karena tanpa dibantu cuci darah ginjalnya tak mampu berfungsi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Agist, begitu namanya biasa dipanggil, sepat merasakan koma sekitar sepekan tahun lalu sebelum dokter memberi diagnosa gagal ginjal kronis.
Lisna, sang ibu, menuturkan anak sulungnya sempat tidak sadarkan diri dan dirawat di ICU. Dalam kondisi koma, Agist menjalani prosedur cuci darah (hemodialisa). Usai prosedur, Agist belum sadarkan diri. Dokter, lanjut Lisna, berkata kondisi fisik Agist memungkinkannya menjalani cuci darah selama dua jam. Umumnya, cuci darah berlangsung 3-5 jam.
"Hari Minggu pagi bezoek lagi, sudah sadar - udah bisa manggil Ibu, udah apa lah. Minggu sore sudah enggak sadar lagi," ujar Lisna pada CNNIndonesia.com.
Beruntung Senin berikutnya Agist dapat mengikuti proses hemodialisa lanjutan yang terbukti menyelamatkan nyawanya.
Lisna bercerita Agist memang dikenal lebih ringkih ketimbang teman-teman sebayanya. Dokter menyebut kondisi ini disebabkan masalah amandel. Namun anggapan ini berubah sejak Agist didiagnosis batu ginjal saat menginjak kelas 1 SMK. Setelah menjalani rangkaian pengobatan, kondisinya membaik.
Kemudian pada September tahun lalu, kondisinya kembali menurun akibat infeksi saluran kemih (ISK). Dalam ginjalnya juga kembali ditemukan batu yang menghambat saluran kencing sehingga menyebabkan infeksi. Belum tuntas perawatan untuk batu ginjal dilakukan, Agist keburu koma.
Dari rangkaian perawatan ini, belakangan Lisna baru tahu bahwa sumber utama persoalan putrinya hingga jatuh koma adalah ginjal yang tak lagi berfungsi normal karena hipertensi.
"Sebenarnya waktu periksa ISK dan kemudian sudah di, apa namanya, sudah dibetulkan, maksudnya sudah diobati dan seterusnya itu, dokternya bilang ada hipertensi. Tapi dokternya kurang jelas ya - ini obat harus diminum terus. Belum jelas," kata Lisna.
Seperti Agist, M. Rahmat juga perlu cuci darah rutin. Ia didiagnosis gagal ginjal sejak kelas 1 SMA atau usia 15 tahun. Rahmat bercerita dirinya memang kerap begadang sembari minum minuman kemasan dan mengonsumsi camilan asin sejak kelas 1 SMP.
"Begitu kelas 1 SMA tiba-tiba mengalami mual, muntah, pucat dan lemas. Kemudian ada kejang juga sama orangtua langsung di bawa ke IGD," kisah Rahmat yang tinggal di Makassar, Sulawesi Selatan ini.
Begitu dicek laboratorium, ternyata level kreatininnya 30 kali lebih tinggi dari kadar normal anak sebayanya, sementara tekanan darahnya mencapai 172/93.
Fungsi ginjal Rahmat dinyatakan tinggal di bawah 15 persen. Dokter menduga ginjalnya rusak akibat hipertensi yang berlanjut selama beberapa tahun dan tidak dikendalikan dengan obat rutin.
Mengapa tak tampak di permukaan?
Ilustrasi. Hipertensi jadi salah satu faktor risiko gagal ginjal. Hal ini kerap belum jadi pemahaman orang tua. (Pexels) |
Hipertensi sebagai faktor risiko gagal ginjal dulunya dianggap sebagai penyakit orang tua. Namun kini ditemukan usia pengidap penyakit tidak menular ini semakin muda. Pun anak-anak sudah ada yang mengidap hipertensi yang berujung pada gagal ginjal.
Kemenkes memperkirakan hanya sekitar sepertiga kasus hipertensi di Indonesia yang terdiagnosis. Pada anak, hitungan semacam itu baru mulai ada lewat Cek Kesehatan Gratis (CKG) Sekolah. Hingga 31 Juli 2026, dari 14,64 juta anak dan remaja yang diperiksa, 2,21 juta memiliki tekanan darah di atas normal, sekitar 15 persen.
Penting dicatat bahwa temuan tersebut belum berarti anak terdiagnosis hipertensi. Sebagian kasus gagal ginjal pada anak juga bersumber dari penyakit bawaan dan berbagai kelainan lain seperti faktor genetik, peradangan pada filter kecil ginjal (glomerulus) akibat gangguan imun, dan sindrom nefrotik.
Namun kurang pengawasan dan pengobatan tuntas pada anak sangat berisiko membuat kasus memburuk bahkan, seperti dalam kasus Agist, membuatnya gagal ginjal kronik.
Lantas, kenapa anak-anak bisa kena hipertensi dan gagal ginjal?
Lihat Juga : |
Pertanyaan ini, menurut Pengurus Harian Yayasan Ginjal anak Indonesia (Yagina) adalah salah satu faktor kunci yang menjadi biang salah paham penyakit gagal ginjal di Indonesia.
Orang tua kurang memahami risiko hipertensi salah satunya gagal ginjal. Kemudian tak hanya hipertensi, diabetes pun bisa mengarah ke gagal ginjal jika tidak ditangani dengan tepat.
"Yang harus ditingkatkan sih sebenarnya pertama kesadaran dari orang tua. Terus juga edukasi-edukasi ke masyarakat pelosok-pelosok gitu, karena banyak juga yang awam Ketua Pengurus Yagina, Agustia Sumariati.
Yagina kini menjadi salah satu penyantun pasien gagal ginjal anak di Indonesia dengan jumlah anggota mencapai sekitar 80 anak. Dalam 10 tahun terakhir, menurut catatan Yagina angka kasus di Jabodetabek terus meningkat dan daftar pasien yang dibantu Yagina bertambah.
Kemudian ini juga soal kesadaran masyarakat tentang penyakit tidak menular. Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono mengatakan Indonesia mengalami pergeseran pola penyakit dari bersumber infeksi menjadi penyakit tidak menular yang kemudian tumbuh tanpa gejala menjadi pembunuh tak kentara (silent killer).
Ilustrasi. Hemodialisa alias cuci darah jadi solusi pasien gagal ginjal guna menggantikan fungsi ginjal yang sudah tidak normal. (Getty Images/saengsuriya13) |
"Orang dengan hipertensi sering tidak mengetahui dirinya hipertensi. Orang dengan diabetes juga sering tidak mengetahui dirinya diabetes. Karena itu, kita tidak bisa hanya mengandalkan keluhan. CKG penting untuk menemukan risiko lebih awal sebelum muncul komplikasi," tegas Dante.
Langkah preventif jelas diperlukan. Salah satu upaya pencegahan yang saat ini dianggap paling efektif untuk mencegah jatuhnya lebih banyak anak dan remaja pada kasus gagal ginjal adalah memperluas target Cek Kesehatan Gratis (CKG) Sekolah.
Target Cakupan CKG Sekolah 2026 dipatok mencapai 16,9 juta anak, tingkat TK hingga SMA, namun ternyata capaiannya dilaporkan justru melampaui target yakni lebih dari 25 juta anak. Cakuan CGK melampaui target juga terjadi pada kelompok dewasa.
Untuk kampanye yang lebih cepat, murah dan masif, Yagina mengusulkan Pemerintah kembali menginisiasi ajakan membawa botol minum dan membatasi makanan asin-gurih yang sangat mudah diakses anak.
"Sekarang baca label kemasan sulit karena cetakannya kecil, ini perlu cetakan lebih besar dan tebal untuk kandungan gula-garam-lemak pada kemasan makanan dan minuman. Selain anaknya, orangtuanya juga penting tahu soal ini," kata Agustia.
Sementara itu, Rahmat rajin mengkampanyekan gaya hidup sehat pada sesama remaja melalui akun Tiktok @pejuangdialisis dengan 10,6K follower.
Padahal dirinya sendiri masih harus berjuang di tengah kondisinya yang rentan dan kerap keluar-masuk rumah sakit. Pun beberapa kali ia membatalkan janji bicara dengan CNNIndonesia.com karena kondisinya sedang lemah. Meski demikian, ia masih mengupayakan untuk berbincang dengan harapan bisa menyuarakan pentingnya gaya hidup sehat.
"Maaf kak, kondisi saya sedang kurang baik," tulisnya melalui aplikasi obrolan WhatsApp sambil menunjukkan tangan yang dipasang selang infus.
(els)




