Memiliki atasan yang gemar mengkritik, sulit diajak berkomunikasi, atau kerap memberikan tekanan berlebihan bisa membuat suasana kerja terasa melelahkan. Bahkan, tak jarang seseorang merasa cemas setiap kali melihat nama atasannya muncul di layar ponsel.
Jika berlangsung terus-menerus, kondisi ini ternyata bukan sekadar persoalan kenyamanan bekerja. Hubungan interpersonal yang penuh tekanan juga berpotensi berdampak pada kesehatan tubuh, termasuk proses penuaan biologis.
Sebuah penelitian yang dilakukan peneliti dari New York University (NYU) menemukan bahwa keberadaan orang yang sulit dihadapi atau disebut hasslers dalam lingkaran sosial berkaitan dengan peningkatan usia biologis sebesar 1,5 persen. Angka tersebut setara dengan sekitar sembilan bulan penuaan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Penelitian yang melibatkan lebih dari 2.300 orang dewasa itu dipimpin oleh Byungkyu Lee, asisten profesor sosiologi di NYU. Para peneliti mengumpulkan informasi dari peserta dan mengambil sampel air liur untuk menganalisis usia biologis mereka.
Hasil penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences (PNAS) tersebut menunjukkan hampir 30 persen responden memiliki setidaknya satu orang yang kerap menjadi sumber masalah dalam lingkaran sosialnya. Sementara itu, sekitar 10 persen memiliki dua orang atau lebih.
Sosok yang dimaksud tidak selalu berasal dari keluarga atau teman dekat. Mereka juga bisa berupa rekan kerja yang selalu menolak tugas baru hingga atasan yang kerap memberikan kritik menyakitkan.
Lantas, bagaimana menghadapi atasan toxic bisa memengaruhi proses penuaan tubuh?
Mengutip CNA, ketika berhadapan dengan atasan yang sulit dihadapi, tubuh bisa memberikan respons stres. Misalnya, jantung berdebar lebih cepat, tubuh terasa panas, hingga muncul ketegangan.
Presiden Singapore Psychological Society sekaligus psikolog klinis terdaftar, Adrian Toh, mengatakan respons tersebut sebenarnya normal dan dapat membantu seseorang menghadapi situasi sulit dalam jangka pendek.
Namun, jika tekanan interpersonal terjadi berulang kali atau berlangsung dalam waktu lama tanpa kesempatan untuk memulihkan diri, dampaknya bisa menumpuk. Psikoterapis sekaligus pendiri pusat konseling ICCT Serene Lee, menjelaskan bahwa tekanan tidak selalu muncul akibat satu perkataan yang menyakitkan.
Berada di sekitar seseorang yang perilakunya sulit diprediksi dapat membuat seseorang terus merasa waspada dan takut melakukan kesalahan. Dalam lingkungan kerja, misalnya, karyawan bisa merasa harus selalu berhati-hati saat berbicara atau menyelesaikan pekerjaan karena khawatir mendapat respons negatif dari atasan.
Kondisi tersebut membuat tubuh seolah terus berada dalam mode stres tanpa mendapatkan waktu istirahat yang cukup. Akibatnya, kualitas tidur, suasana hati, hingga kondisi kesehatan secara keseluruhan dapat terganggu.
Penelitian tersebut juga mencatat bahwa stres kronis merupakan salah satu faktor yang telah lama dikaitkan dengan penuaan biologis. Stres dapat memengaruhi aktivitas gen yang mengatur peradangan dan proses penuaan.
Dampaknya bukan hanya dirasakan secara psikologis. Seseorang bisa lebih mudah khawatir, tersinggung, kelelahan secara emosional, hingga terus memikirkan percakapan yang sudah berlalu.
Secara fisik, stres berkepanjangan dapat memicu sakit kepala, ketegangan otot, gangguan pencernaan, tidur gelisah, kelelahan, hingga perubahan nafsu makan.
Bagaimana mengenali atasan yang menjadi sumber stres?
Tidak semua kritik atau perbedaan pendapat di tempat kerja berarti seseorang memiliki atasan toxic. Memberikan masukan dan menuntut tanggung jawab merupakan bagian dari hubungan profesional.
Namun, seseorang perlu lebih waspada ketika interaksi berulang kali diwarnai permusuhan, tindakan merendahkan, intimidasi, atau pelanggaran batasan pribadi. Menurut Toh, istilah orang sulit dihadapi sebenarnya cukup subjektif. Sebab, setiap orang bisa memiliki penilaian berbeda terhadap perilaku yang sama.
Sementara itu, Andrea Chan, kepala grup TOUCH Counselling & Psychological Services, menggambarkan orang yang sulit dihadapi sebagai individu yang cenderung tidak mau berkompromi, agresif, pesimistis, gemar mengkritik, serta tidak menghormati batasan pribadi dan waktu orang lain.
Untuk mengetahui apakah atasan menjadi salah satu sumber stres, Lee menyarankan agar seseorang mengenali pola emosional yang muncul setelah berinteraksi. Misalnya, apakah Anda merasa cemas setiap kali menerima pesan atau telepon dari atasan? Apakah sulit tidur sebelum hari kerja atau sebelum menghadiri rapat dengannya? Apakah Anda merasa lebih rileks ketika atasan tersebut tidak berada di sekitar?
Jika kondisi tersebut terus berulang, hubungan kerja itu mungkin menjadi salah satu sumber tekanan emosional.
Cara memulihkan diri setelah menghadapi atasan toxic
Merasa kesal, frustrasi, atau kecewa setelah menghadapi atasan yang sulit merupakan respons manusiawi. Karena itu, seseorang tidak perlu memaksakan diri untuk selalu tenang atau tidak terpengaruh.
Toh menyarankan agar seseorang memberikan waktu kepada diri sendiri untuk menenangkan emosi sebelum kembali melanjutkan percakapan atau menghadapi situasi yang memicu stres.
Ada beberapa cara sederhana yang bisa dilakukan untuk membantu memulihkan kondisi emosional, di antaranya berjalan kaki sejenak, mengatur napas secara perlahan, mandi, mendengarkan musik, berolahraga, atau duduk tenang selama sekitar 10 menit.
Selain itu, Toh menyarankan untuk mencoba berempati dan mempertimbangkan kemungkinan lain di balik perilaku seseorang. Jangan langsung berasumsi bahwa orang tersebut sengaja memiliki niat buruk.
Meski demikian, memahami perilaku atasan bukan berarti harus terus menerima perlakuan yang menyakitkan. Menjaga batasan pribadi tetap penting untuk melindungi kesehatan emosional.
Toh juga mengingatkan agar hasil penelitian ini tidak dimaknai sebagai alasan untuk menghindari semua orang yang dianggap sulit. Studi tersebut menemukan hubungan antara relasi sosial yang penuh tekanan dan penanda biologis penuaan. Namun, penelitian ini belum membuktikan bahwa orang-orang tersebut secara langsung menyebabkan seseorang menua lebih cepat.
Di sisi lain, hubungan sosial yang sehat dan suportif tetap memiliki peran penting bagi kesehatan serta kebahagiaan dalam jangka panjang. Sebab, menjaga kesehatan bukan hanya soal merawat tubuh, tetapi juga membangun dan mempertahankan hubungan yang sehat, termasuk di lingkungan kerja.
(tis/tis)

