IDAI: Pakai Masker Hanya Solusi Sementara, Segera Padamkan Karhutla

CNN Indonesia
Rabu, 04 Nov 2026 02:00 WIB
Karhutla Kalimantan Selatan
Ilsutrasi. IDAI serukan upaya pemadaman sesegera mungkin demi lindungi kesehatan anak. (ANTARA FOTO/Bayu Pratama S)
Jakarta, CNN Indonesia --

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mau tak mau memicu risiko kesehatan terlebih terhadap kelompok rentan termasuk anak-anak. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyerukan pemadaman karhutla sesegera mungkin demi melindungi kesehatan anak-anak di kawasan terdampak.

Bahasan karhutla masih terus bergulir terutama dari segi dampak kesehatan. Piprim Basarah Yanuarso, Ketua Umum Pengurus Pusat IDAI, mengatakan polutan PM 2,5 pada asap karhutla tak hanya berbahaya tapi juga punya dampak jangka panjang terhadap kesehatan anak.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dia berkata tenaga medis di kawasan terdampak karhutla terus bergelut dengan kasus pernapasan. Namun solusi utama terhadap masalah ini tentu saja langkah nyata pemerintah.

"Dampak penanganan atau pengobatan akibat karhutla terhadap kesehatan atau aspek lain itu luar biasa. Saya kira kalau ditanya apa solusi terbaik ya pemadaman secepat cepatnya," kata Piprim dalam webinar pada Selasa (3/11).

Dia menambahkan jika pemerintah tidak sanggup menangani karhutla maka sebaiknya bekerja sama dengan negara-negara tetangga atau mencari bantuan dari luar.

"Penggunaan masker itu bukan solusi utama tapi sementara. Solusinya ya pemadaman sesegera mungkin. Kalau tidak mampu ya cari bantuan dari luar," imbuhnya.

Sementara itu, Khairiyadi, dokter spesialis anak subspesialis respirologi-konsultan, menjelaskan ada tren peningkatan pada kasus pernapasan anak sejak karhutla.

Data di rumah sakit tempat Khairiyadi bertugas, RSUD Ulin, tercatat peningkatan kasus ISPA. Pada Juli 2026 terdapat 157 kasus dengan kawasan terdampak karhutla seluas 459,68 ha lalu terus meningkat seiring semakin luas kawasan terdampak. Pada 14 Oktober 2026 tercatat ada 4.926 kasus dengan luas lahan terdampak 27.202,97 ha.

Pemadaman karhutla jelas jadi sesuatu yang musti segera dilakukan. Khairiyadi berkata dirinya yang sehari-hari menerima keluhan orang tua pasien pun bingung memberikan solusi.

Pasalnya, masalah kualitas udara tidak bisa sesederhana ditangani dengan penggunaan masker. Pada anak-anak yang jadi kelompok rentan, usia hingga 2 tahun terbukti sulit untuk rutin mengenakan masker.

"Dok, gimana supaya anak saya tidak mengi lagi?" kenang Khairiyadi.

"Ya ngungsi. Ngungsi ke mana?"

Berpindah wilayah pun masih terdampak asap karhutla. Dia pun mengusulkan penyediaan rumah aman bagi penderita masalah pernapasan yang tidak bisa keluar dari kawasan terdampak karhutla.

"Rumah aman tersebut ada ventilasi, oksigen buat mereka yang membutuhkan. Apa ini bisa diadvokasi ke pemerintah," katanya.

(els)
LIHAT SELENGKAPNYA