Sering Cemas dan Overthinking? Ini 4 Cara Mengelolanya

CNN Indonesia
Sabtu, 07 Nov 2026 10:30 WIB
ilustrasi overthinking
Ilustrasi. Ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mengelola pikiran cemas dan overthinking. (Foto: iStockphoto)
Daftar Isi
Jakarta, CNN Indonesia --

Pernah merasa terlalu mudah cemas, memikirkan sesuatu berulang kali, atau sulit melupakan kejadian yang membuat kesal? Kebiasaan tersebut mungkin terasa sudah melekat dalam diri. Bahkan, tidak sedikit orang menganggap kepribadian sebagai sesuatu yang sulit diubah.

Padahal, kepribadian seseorang tidak sepenuhnya menetap. Sejumlah penelitian psikologi menunjukkan bahwa karakter dapat berubah seiring waktu, termasuk cara seseorang merespons emosi negatif.

Salah satu aspek kepribadian yang banyak diteliti adalah neurotisisme (neuroticism), yakni kecenderungan seseorang untuk lebih mudah mengalami emosi negatif, seperti kecemasan, kesedihan, kemarahan, hingga rasa bersalah.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tingkat neurotisisme juga berkaitan dengan berbagai aspek kehidupan, mulai dari kepuasan hidup hingga hubungan sosial dan pekerjaan. Kabar baiknya, kecenderungan ini dapat dikelola melalui perubahan pola pikir dan kebiasaan sehari-hari. Lantas, bagaimana cara melatih diri agar lebih stabil secara emosional?

Mengenal neurotisisme, kecenderungan yang memengaruhi emosi

Dalam psikologi, kepribadian manusia kerap dijelaskan melalui model Big Five Personality. Model ini membagi kepribadian ke dalam lima dimensi, yaitu keterbukaan terhadap pengalaman (openness), kehati-hatian dan kedisiplinan (conscientiousness), ekstraversi (extraversion), keramahan (agreeableness), serta neurotisisme (neuroticism).

Neurotisisme menggambarkan kecenderungan seseorang untuk lebih mudah mengalami emosi negatif dan merespons berbagai situasi secara sensitif. Orang dengan tingkat neurotisisme tinggi biasanya lebih mudah merasa khawatir, memikirkan sesuatu secara berlebihan atau sulit melupakan pengalaman yang tidak menyenangkan.

Sebaliknya, orang dengan tingkat neurotisisme rendah cenderung lebih stabil secara emosional. Mereka relatif lebih tenang ketika menghadapi masalah dan dapat lebih cepat pulih setelah mengalami situasi sulit.

Meski demikian, neurotisisme bukan sesuatu yang sepenuhnya buruk. Dalam kadar tertentu, kepekaan terhadap risiko justru dapat membantu seseorang lebih waspada terhadap ancaman. Kecenderungan ini baru menjadi persoalan ketika terlalu kuat hingga mengganggu kehidupan sehari-hari.

Kepribadian ternyata bisa berubah

Kepribadian memang cenderung stabil, tetapi bukan berarti tidak dapat berubah. Perubahan bisa terjadi seiring pengalaman hidup maupun melalui upaya yang dilakukan secara sengaja.

Hal ini salah satunya diteliti melalui penggunaan aplikasi bernama CHILL (Changing How I Live Life). Aplikasi tersebut dikembangkan oleh Wiebke Bleidorn dan rekan-rekannya untuk melihat apakah teknologi sehari-hari dapat membantu seseorang membangun kebiasaan yang mendukung kestabilan emosi.

Dalam penelitian tersebut, partisipan diminta menggunakan beberapa versi aplikasi selama enam minggu. Peneliti kemudian membandingkan hasil pengukuran kepribadian sebelum dan sesudah penggunaan aplikasi.

Hasilnya menunjukkan bahwa aplikasi CHILL berpotensi membantu menurunkan tingkat neurotisisme. Namun, tidak semua versi aplikasi memberikan hasil yang sama. Versi yang paling efektif menggabungkan penjelasan mengenai neurotisisme dengan latihan untuk membangun kebiasaan berpikir dan berperilaku baru. Pengguna juga mendapat panduan untuk menenangkan diri ketika menghadapi situasi pemicu stres.

Temuan ini menunjukkan bahwa perubahan kepribadian tidak selalu harus dimulai dengan langkah besar. Kebiasaan sederhana yang dilakukan secara konsisten juga dapat menjadi bagian dari proses tersebut.

Cara melatih kestabilan emosi dalam keseharian

Menurut Bleidorn, upaya mengurangi neurotisisme dapat dilakukan melalui dua pendekatan. Pertama, melakukan aktivitas yang membantu menenangkan diri ketika menghadapi tekanan. Kedua, membangun kebiasaan baru untuk mengubah cara berpikir dan merespons situasi dalam jangka panjang.

Mengutip latihan yang dikembangkan dalam penelitian CHILL, berikut beberapa cara yang bisa dicoba untuk melatih kestabilan emosi:

1. Amati cara orang lain menghadapi stres

Coba pikirkan seseorang yang menurutmu mampu menghadapi tekanan dengan baik. Perhatikan bagaimana orang tersebut bersikap ketika menghadapi masalah, kemudian pilih satu perilaku positif yang bisa diterapkan dalam keseharian.

Misalnya, belajar untuk tidak langsung bereaksi ketika sedang kesal atau memberi diri sendiri waktu untuk berpikir sebelum mengambil keputusan. Dengan mengamati dan meniru perilaku tersebut, kamu bisa mulai membangun kebiasaan baru dalam menghadapi situasi sulit.

2. Tantang pikiran negatif

Ketika muncul asumsi atau pikiran negatif, coba berhenti sejenak dan periksa kembali apakah pemikiran tersebut benar-benar sesuai dengan kenyataan. Pertimbangkan kemungkinan lain sebelum mengambil kesimpulan.

Dengan begitu, kamu bisa belajar untuk tidak langsung terjebak dalam satu sudut pandang negatif. Kebiasaan ini juga membantu seseorang merespons situasi dengan lebih tenang dan tidak terburu-buru mengambil keputusan berdasarkan emosi.

3. Hubungi teman untuk bercerita

Mengobrol dengan teman dan menceritakan hal yang sedang dialami juga bisa membantu mengelola emosi. Kamu bisa memulainya dengan mengirim pesan sederhana tentang bagaimana harimu berjalan atau sesuatu yang sedang mengganggu pikiran.

Berbagi cerita dan mendapatkan dukungan dari orang terdekat dapat membantu mengurangi beban pikiran, terutama ketika sedang menghadapi tekanan.

4. Coba hadapi hal yang biasanya dihindari

Jika ada situasi yang selalu kamu hindari karena merasa cemas, coba mulai menghadapinya secara bertahap. Misalnya, memberanikan diri menyampaikan pendapat dalam diskusi atau mencoba aktivitas baru yang selama ini membuatmu ragu.

Dalam latihan CHILL, aktivitas yang biasanya dihindari karena kecemasan disarankan untuk dicoba setidaknya tiga kali dalam seminggu. Namun, bukan berarti kamu harus memaksakan diri untuk langsung berubah dalam waktu singkat. Mulailah dari hal sederhana dan lakukan secara konsisten agar semakin terbiasa menghadapi situasi yang sebelumnya terasa sulit.

Perubahan kepribadian memang tidak terjadi dalam semalam. Namun, cara seseorang berpikir, mengelola emosi, dan merespons berbagai situasi merupakan hal yang dapat terus dilatih.

Jadi, jika selama ini kamu merasa mudah cemas atau terlalu sering terjebak dalam pikiran negatif, bukan berarti kondisi tersebut akan terus melekat selamanya. Dengan mengenali kebiasaan diri dan mencoba cara-cara baru, kestabilan emosi dapat dibangun secara bertahap.

(anm/tis)
placeholder
LIHAT SELENGKAPNYA