Gunung Halimun Salak, Surga Wisata Alam di Jawa Barat

CNN Indonesia
Rabu, 04 Nov 2026 18:30 WIB
Jalan Raya Puncak Bogor Jawa Barat
Ilustrasi. Gunung Salak Halimun. (Istockphoto/PuspaSwara)
Jakarta, CNN Indonesia --

Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS) menjadi salah satu destinasi wisata alam di Jawa Barat yang menawarkan kekayaan hutan tropis, pegunungan, hingga keanekaragaman satwa liar. Kawasan ini juga menjadi rumah bagi berbagai flora dan fauna yang perlu dijaga kelestariannya.

Berada di wilayah Kabupaten Bogor, Sukabumi, dan Lebak, TNGHS memiliki bentang alam yang menarik untuk dijelajahi. Kawasan konservasi ini dikenal dengan hutan hujan tropis, panorama pegunungan, air terjun, serta keanekaragaman hayati yang menjadi daya tarik wisata alam.

Untuk menjaga kelestarian kawasan tersebut, upaya pemulihan ekosistem terus dilakukan. Salah satunya melalui rencana restorasi hutan seluas 325 hektare yang akan dijalankan Star Energy Geothermal (SEG) selama periode 2026-2027.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Mengutip Antara, sekitar sekitar 120 ribu pohon akan ditanam dalam kegiatan ini. Rinciannya, restorasi seluas 225 hektare pada 2026 dan 100 hektare pada 2027.

Kepala Balai Taman Nasional Gunung Halimun Salak Didid Sulastiyo mengatakan pihaknya mendukung rencana pemulihan ekosistem tersebut. Pelaksanaannya akan mengikuti ketentuan yang berlaku dengan melibatkan partisipasi aktif masyarakat sekitar.

"Kami mendukung rencana pemulihan ekosistem 325 hektare di TNGHS sebagai bagian dari upaya pemulihan ekosistem kawasan," kata Didid.

Menurut dia, hasil restorasi juga perlu dipelihara dan dipantau agar manfaatnya dapat dirasakan secara berkelanjutan, termasuk untuk mendukung upaya konservasi kawasan TNGHS. Sementara itu, Head of Social Investment and Communications Star Energy Geothermal Laksmi Prasvita mengatakan restorasi tersebut merupakan bagian dari komitmen perusahaan dalam menjaga ekosistem hutan.

Selain menjadi tujuan wisata alam, TNGHS memiliki peran penting sebagai habitat berbagai satwa liar, termasuk macan tutul jawa yang merupakan salah satu satwa endemik Indonesia. Berdasarkan hasil Java-Wide Leopard Survey (JWLS) yang dikoordinasikan Yayasan SINTAS Indonesia, ditemukan 51 individu macan tutul jawa, termasuk tiga anakan, di bentang alam Halimun-Salak.

Keberadaan satwa tersebut menjadi salah satu alasan pentingnya menjaga kelestarian hutan. Kualitas habitat, ketersediaan mangsa, serta konektivitas antarkawasan hutan menjadi faktor yang memengaruhi kelangsungan hidup macan tutul jawa.

Restorasi 325 hektare hutan diharapkan dapat memulihkan lahan terdegradasi, meningkatkan kualitas habitat, dan memperkuat konektivitas ekosistem.

Dengan begitu, kawasan hutan tetap dapat menjadi ruang hidup bagi satwa liar sekaligus menjaga keseimbangan alam.

Program tersebut juga melibatkan masyarakat sekitar melalui kemitraan dengan kelompok tani hutan. Selain berpartisipasi dalam pemulihan ekosistem, masyarakat diharapkan memperoleh peluang penghasilan dari kegiatan pembibitan, penanaman, dan pemeliharaan pohon.

"Keberhasilan restorasi bukan sekadar berapa banyak pohon yang ditanam, tetapi apakah hutan benar-benar pulih dan masyarakat ikut memperoleh manfaat dari upaya menjaganya," ujar Laksmi.

Kelestarian hutan menjadi salah satu faktor penting agar pesona wisata alam Gunung Halimun Salak tetap terjaga. Bukan hanya untuk dinikmati wisatawan saat ini, tetapi juga agar kekayaan alam dan keanekaragaman hayatinya dapat terus dinikmati generasi mendatang.

(tis/tis)
placeholder
LIHAT SELENGKAPNYA