Kenali Potensi Anak Tanpa Membandingkan dengan Orang Lain

TalentDNA | CNN Indonesia
Rabu, 04 Nov 2026 17:01 WIB
TalentDNA
Foto: Arsip ESQ
Jakarta, CNN Indonesia --

Perbedaan minat dan kemampuan anak kerap membuat orang tua khawatir, terutama ketika pencapaian mereka terlihat tidak sejalan dengan teman sebaya. Nilai rapor yang menurun atau minimnya prestasi akademis terkadang dianggap sebagai tanda anak belum mengembangkan kemampuannya secara optimal.

Di sisi lain, anak mungkin justru menunjukkan ketertarikan pada aktivitas lain. Misalnya, lebih senang menggambar, merakit sesuatu, atau melakukan kegiatan kreatif dibandingkan mengikuti les tambahan yang dipilihkan orang tua.

Situasi tersebut sering memunculkan pertanyaan mengenai cara terbaik mendampingi perkembangan anak. Apakah anak kurang berusaha, belum menemukan minatnya, atau memang memiliki cara belajar dan berkembang yang berbeda?

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kekhawatiran orang tua tentu dapat dipahami. Namun, keinginan memberikan yang terbaik terkadang tanpa disadari mendorong kebiasaan membandingkan anak dengan saudara maupun teman sebayanya.

Padahal, perkembangan anak tidak selalu terlihat dari angka di rapor atau banyaknya piala yang dibawa pulang. Ada anak yang cepat memahami pelajaran, ada yang lebih mudah belajar lewat praktik, dan ada pula yang baru berani menunjukkan kemampuannya setelah merasa nyaman.

Tak Semua Anak Menunjukkan Potensi dengan Cara yang Sama

Ketika melihat anak lain aktif berbicara di depan kelas, orang tua mungkin berharap anaknya melakukan hal serupa. Padahal, anak yang lebih pendiam belum tentu tidak punya gagasan. Bisa jadi ia lebih suka mengamati sebelum menyampaikan pendapat.

Begitu juga dengan anak yang sulit duduk diam saat belajar. Mereka mungkin membutuhkan metode belajar yang lebih melibatkan gerak atau praktik. Ini bukan alasan untuk mengabaikan kesulitan belajar, tetapi pengingat bahwa pendekatan yang berhasil pada satu anak belum tentu cocok untuk anak lain.

Untuk itu, orang tua dapat mulai dengan memperhatikan hal-hal sederhana. Antara lain, aktivitas apa yang membuat anak betah, kapan anak terlihat bersemangat, bagaimana reaksinya ketika menghadapi tantangan. Kemudian, apakah ia senang bekerja bersama teman atau lebih nyaman menyelesaikan sesuatu sendiri.

Pengamatan seperti ini dapat membantu orang tua mengenali pola, bukan buru-buru memberi cap. Minat anak juga bisa berubah seiring pengalaman dan bertambahnya usia. Karena itu, proses mengenali potensi perlu memberi ruang bagi anak untuk mencoba hal baru.

Mengenali Talenta Bisa Menjadi Awal Percakapan

Salah satu cara untuk memahami kecenderungan anak adalah melalui pemetaan talenta. TalentDNA for Kids merupakan asesmen yang dirancang untuk membantu orang tua dan pendidik mengenali kekuatan serta potensi anak. Prosesnya dikemas dalam bentuk permainan agar lebih mudah diikuti anak.

TalentDNA memetakan 45 tema talenta ke dalam tiga kelompok besar, yaitu Drive, Network, dan Action. Drive berkaitan dengan hal yang mendorong seseorang mencapai tujuan.

Network menggambarkan kecenderungan dalam membangun hubungan dengan orang lain. Sementara Action berhubungan dengan cara mengolah informasi dan mewujudkan gagasan menjadi tindakan.

Hasil asesmen dapat menjadi bahan percakapan antara orang tua dan anak. Misalnya, ketika laporan menunjukkan kecenderungan tertentu, orang tua bisa menanyakan apakah gambaran itu terasa sesuai dengan pengalaman anak. Anak pun mendapat kesempatan menceritakan hal yang ia sukai atau tantangan yang sedang dihadapi.

Namun, hasil asesmen bukan diagnosis dan bukan keputusan final mengenai masa depan anak. Informasi tersebut sebaiknya dibaca bersama pengamatan orang tua, masukan guru, pengalaman anak, serta kebutuhan perkembangannya.

Tugas Orang Tua Bukan Menentukan Jalan Anak

Mengenali potensi bukan berarti anak harus diarahkan sejak kecil menuju satu profesi tertentu. Anak yang terlihat senang memimpin, misalnya, tidak harus selalu menjadi ketua kelompok. Anak yang gemar menggambar juga tidak otomatis harus menjadi seniman.

Yang lebih penting adalah menyediakan kesempatan. Ajak anak mencoba kegiatan yang beragam, beri ruang untuk menyelesaikan tugas dengan caranya, dan bicarakan kegagalan tanpa mempermalukannya. Saat anak kesulitan, tanyakan bagian mana yang terasa berat sebelum langsung menyimpulkan ia malas atau tidak mampu.

Orang tua juga perlu menerima bahwa dukungan tidak selalu berarti menambah les atau aktivitas. Terkadang, anak hanya membutuhkan waktu untuk bermain, beristirahat, dan bercerita tanpa merasa sedang dinilai.

TalentDNA for Kids dapat menjadi salah satu sarana untuk memulai proses mengenali kecenderungan anak. Informasi lebih lanjut mengenai asesmen dan pilihan laporan dapat dilihat melalui situs resmi TalentDNA.

Pada akhirnya, setiap anak membutuhkan ruang untuk tumbuh tanpa terus-menerus diukur dengan pencapaian orang lain. Ketika orang tua lebih memahami cara anak belajar, berinteraksi, dan menghadapi tantangan, mereka dapat memberi dukungan yang lebih sesuai. Bukan untuk membentuk anak menjadi seperti orang lain, melainkan membantu anak mengenali dirinya dan berani mengembangkan kemampuannya.

Bagi orang tua yang ingin mulai mengenali potensi anak, TalentDNA for Kids bisa menjadi salah satu pilihan. Pelajari lebih lanjut melalui talentdna.me/kids.

(inh)