Banyak orang yang sedang menjalani program penurunan berat badan merasa porsi makannya semakin sedikit. Bahkan, setelah terbiasa makan dalam jumlah kecil, mereka merasa lebih cepat kenyang dibandingkan sebelumnya.
Kondisi ini kerap dikaitkan dengan anggapan bahwa lambung bisa mengecil ketika seseorang mengurangi porsi makan. Tak sedikit pula yang percaya bahwa kebiasaan makan sedikit dalam waktu lama dapat membuat ukuran lambung menyusut.
Namun, benarkah demikian?
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dokter spesialis gizi klinik Christopher Andrian menjelaskan bahwa ukuran lambung secara anatomi tidak serta-merta mengecil hanya karena seseorang menjalani diet atau berhasil menurunkan berat badan.
Menurut dia, lambung pada dasarnya memiliki ukuran anatomi yang relatif tetap. Organ ini kurang lebih sebesar kepalan tangan, meski memiliki kemampuan untuk mengembang ketika terisi makanan.
"Lambung memang bisa mekar ketika diisi makanan terlalu banyak. Namun, secara anatomi ukurannya kurang lebih tetap," jelas Christopher dalam keterangannya saat hadir di acara Novo Indonesia dalam kampanye Hidup Lebih Ringan.
Perubahan yang lebih berperan dalam proses penurunan berat badan justru terjadi pada mekanisme biologis tubuh, terutama sistem pengaturan rasa lapar dan kenyang.
Christopher menjelaskan, otak memiliki peran penting dalam mengatur perilaku makan melalui sejumlah sistem yang saling berhubungan. Sistem tersebut mencakup pengaturan rasa lapar, rasa kenyang, respons terhadap kenikmatan makanan, hingga pengambilan keputusan untuk makan.
Ketika seseorang mengalami obesitas, mekanisme pengaturan tersebut dapat mengalami gangguan. Akibatnya, sinyal lapar dan kenyang tidak selalu bekerja secara optimal.
"Sebaliknya, ketika berat badan berhasil turun dan lemak tubuh berkurang, respons biologis yang mengatur rasa lapar dan kenyang dapat mengalami perubahan," kata dia.
Dengan kata lain, perasaan lebih cepat kenyang setelah menjalani diet tidak selalu berarti ukuran lambung benar-benar menyusut. Ada perubahan pada cara tubuh merespons makanan dan mengirimkan sinyal kenyang ke otak.
Hal ini juga menjelaskan mengapa mempertahankan berat badan setelah diet bukan perkara mudah.
"Obesitas tidak dapat disederhanakan sebagai persoalan kurang disiplin. Tubuh memiliki sistem biologis yang mengatur rasa lapar, kenyang, dan penggunaan energi. Bahkan setelah berat badan turun, tubuh dapat merespons dengan meningkatkan rasa lapar sehingga mempertahankan hasil menjadi lebih menantang," ujar Christopher.
Karena itu, pengelolaan obesitas membutuhkan strategi jangka panjang yang disesuaikan dengan kondisi masing-masing individu.
Pola makan sehat dan aktivitas fisik tetap menjadi fondasi utama penanganan obesitas. Namun untuk sebagian orang, dokter dapat mempertimbangkan dukungan tambahan, mulai dari pendampingan psikologis dan perubahan perilaku hingga terapi obat atau bedah bariatrik sesuai kondisi klinis.
Salah satu pilihan terapi obat yang tersedia adalah golongan glucagon-like peptide-1 receptor agonist (GLP-1 RA). Terapi ini bekerja menyerupai hormon alami yang berperan memberikan sinyal kenyang sehingga dapat membantu mengurangi rasa lapar.
Meski demikian, GLP-1 RA termasuk obat keras yang penggunaannya harus berdasarkan resep dan pemantauan dokter. Pertimbangan manfaat, risiko, serta kemungkinan efek samping, terutama gangguan pencernaan, perlu diperhatikan sebelum menjalani terapi.
Selain penanganan medis, pemahaman masyarakat mengenai obesitas juga menjadi bagian penting dalam upaya pengelolaannya. Dokter yang juga Associate Director Medical & Regulatory Novo Indonesia, Riyanny M. Tarliman, mengatakan edukasi diharapkan dapat mendorong masyarakat memahami obesitas secara lebih menyeluruh dan tidak ragu mencari bantuan tenaga kesehatan profesional.
"Anggapan bahwa lambung mengecil saat berat badan turun perlu dipahami secara lebih tepat. Perubahan rasa lapar dan kenyang tidak selalu berkaitan dengan perubahan ukuran organ, melainkan juga melibatkan mekanisme biologis yang diatur oleh otak dan hormon," kata dia.
(tis/tis)

