Mengandalkan sejumlah pemain yang memperkuat klub raksasa Eropa, seperti Ivan Perisic, Luka Modric, Darijo Srna, Marcelo Brozovic, dan Mario Mandzukic, timnas Kroasia bermain efisien dan tajam melawan Turki.
Meski kalah dalam penguasaan bola (49 persen) dari Turki, Kroasia tampil lebih tajam. Total Kroasia melakukan 18 percobaan ke gawang Turki, dengan enam di antaranya tepat sasaran. Bahkan di babak kedua ada tiga peluang Kroasia yang mengenai mistar gawang.
Kroasia sebenarnya bermain cukup sederhana. Lebih banyak memainkan bola ke sayap dan sesering mungkin melakukan umpan-umpan silang. Dengan Mandzukic sebagai target-man dan winger cukup tinggi seperti Perisic serta Brozovic, strategi itu tidak pernah salah.
Kekurangan Kroasia di pertandingan pertama ini hanya kurang jeli dalam penyelesaian akhir. Tim yang prestasi terbaik di Piala Eropa mencapai perempat final edisi 1996 dan 2008 itu seharusnya bisa menang lebih dari dua gol atas Turki jika lebih jeli di kotak penalti.
Kroasia sebenarnya memiliki sejumlah pemain berbahaya yang mampu memanfaatkan peluang sekecil apapun. Gol tunggal Kroasia yang dicetak Modric pada menit ke-41 mencerminkan betapa berkualitasnya para pemain Kroasia dalam melakukan penyelesaian akhir.
Memanfaatkan bola liar di luar kotak penalti, Modric berhasil menggetarkan gawang Turki lewat tendangan voli.
Kemenangan Kroasia merupakan sinyal ancaman bagi Spanyol yang menjadi tim favorit di Grup D. Kroasia menunjukkan mereka siap bersaing dengan La Furia Roja dalam perebutan gelar juara grup.
[Gambas:Sportradar]
(har)