Mendapatkan gelar Master dari Kajian Wilayah Eropa Universitas Indonesia. Penggemar berat tim nasional Jerman dan LIverpool. Kini menjadi wartawan di kanal olahraga CNN Indonesia.

Pesta Bola di Senja Uni Eropa

Martinus Adinata
Kamis, 23/06/2016 19:45 WIB
Inggris pada Kamis (23/6) melakukan referendum untuk memilih keluar atau tidak dari Uni Eropa. (Christopher Furlong/Getty Images)

Jakarta, CNN Indonesia -- "Soon, nostalgia will be another name of Europe." - Angela Carter (Penulis Post Modern asal Inggris)

Pesta olahraga Eropa telah bergulir sejak 10 Juni lalu. Sebanyak 24 negara kini tengah berkumpul di Perancis memperebutkan status sebagai negara terbaik di Benua Biru dalam urusan sepak bola.

Namun, turnamen empat tahunan Eropa kali ini terasa sangat berbeda dibanding penyelenggaraan-penyelenggaraan sebelumnya.

Mulai dari jumlah tim yang semakin menumpuk lantaran penambahan kuota negara peserta, terkuaknya skandal korupsi di tubuh FIFA sebagai otoritas tertinggi sepak bola dunia, bayang-bayang aksi terorisme, hingga peliknya kondisi geopolitik Eropa mewarnai gelaran turnamen itu.

Belum lagi berbicara soal Inggris yang sedang setengah hati berada di Uni Eropa (UE), serta semakin menguatnya nasionalisme di banyak negara-negara benua biru itu.

Pada Kamis (23/6), warga Inggris tengah berhadapan dengan pilihan untuk tetap bertahan di keluarga besar UE atau akhirnya meninggalkan keluarga yang dalam beberapa tahun terakhir mulai goyah.

Terlepas dari bertahan atau tidaknya Inggris, penentuan pilihan rakyat Inggris dipastikan akan membuat Uni Eropa ke depannya tak akan pernah sama.

Keputusan untuk hengkang akan semakin memperkeruh krisis ekonomi yang dihadapi Eropa lantaran lemahnya perekonomian sejumlah negara anggota, masalah utang, hingga arus migrasi yang tak berujung. Hengkangnya Inggris juga akan semakin menimbulkan tanda tanya besar terhadap masa depan Uni Eropa.

Pasalnya, referendum Inggris berbeda dengan referendum serupa yang pernah dilakukan Yunani. Inggris bukanlah biang kerok krisis di zona euro dan negara itu juga tidak sedang mengandalkan bantuan dari negara-negara tetangga untuk menjalankan roda perekonomian mereka.

Sedangkan jika Inggris akhirnya tetap bertahan di UE, gema referendum yang telah mereka gaungkan bisa menjadi langkah yang akan diikuti politikus dari negara-negara Eropa lainnya.

Referendum Inggris --apapun hasilnya-- juga bisa menjadi landasan bagi semakin menguatnya wacana terbelahnya UE menjadi dua.

Di satu sisi ada 'negara-negara inti' yang lebih terintegrasi dengan kekuatan politk dan ekonomi yang relatif setara, serta kelompok negara anggota lain yang tak mampu mengikuti langkah 'negara-negara inti' tersebut.

Wacana yang sudah lama bergaung di kalangan negara-negara kuat Eropa.

Eropa yang Bergeser ke 'Kanan'?

Selain masalah referendum Inggris, gaung Piala Eropa kali ini juga bersaing dengan bangkitnya nasionalisme di sejumlah negara Eropa.

Bagi Eropa, hal ini memiliki beban sejarahnya sendiri: nasionalisme ekstrem adalah salah satu alasan benua biru itu terpecah dalam dua perang dunia yang memakan waktu sekitar 25 tahun.

Bernaung di bawah payung keluarga bernama Uni Eropa dianggap sebagai salah satu cara terbaik menekan nasionalisme ekstrem yang pernah menghancurkan benua itu.

Namun, selama beberapa tahun terakhir, tren menguatnya politikus sayap kanan di sejumlah negara Eropa terus berkembang. Sebuah fenomena yang didukung dengan berbagai isu imigran, semakin melemahnya perekonomian, maupun masalah radikalisme, yang merupakan topik panas di UE.

Mulai dari Freedom Party di Austria yang kini memiliki 40 dari 183 kursi dewan di negara itu, hingga partai sayap kanan Jerman, Alternative fuer Deutschland (AfD), yang semakin dekat menjadi partai sayap kanan pertama yang memasuki parlemen Jerman sejak akhir Perang Dunia II, tren nasionalisme merupakan sebuah pergerakan yang semakin jelas di Eropa.

Berbagai kerusuhan mulai dari sikap anti imigran hingga bentrok antar suporter sepak bola maupun aksi-aksi rasialisme di lapangan hijau merebak dalam beberapa tahun terakhir, juga semakin mempertegas kebangkitan kembali nasionalisme di Eropa.

Perhelatan Piala Eropa di Perancis pun tak lepas dari tren tersebut. Kericuhan antar suporter yang marak terjadi sejak bergulirnya kick-off, 10 Juni lalu, merupakan sebuah tren yang tak dapat dipandang sebelah mata.

Mulai dari bentrokan antara suporter Rusia dan Inggris, kisruh suporter Inggris dan ultras dari Marseille, hingga suporter-suporter fanatik Kroasia, Polandia, hingga Irlandia Utara, Piala Eropa kali ini lebih banyak menghadirkan drama di luar lapangan dibanding di dalam lapangan.

Tren ini sebenarnya pernah diingatkan oleh mantan presiden UEFA, Michel Platini, bahwa ada peningkatan aksi-aksi nasionalisme dan ekstremisme di sejumlah liga-liga Eropa.

Momen Krusial

Menjelang bergulirnya Piala Eropa 2016, dunia politik sempat dianggap telah gagal menyatukan Eropa, pun demikian dengan dunia ekonomi lantaran krisis di zona euro juga menjadi salah satu alasan merenggangnya UE.

Dalam kondisi inilah sepak bola diharapkan untuk menjadi 'pemersatu sementara' UE yang semakin merenggang dari waktu ke waktu.

Namun, penyelenggaraan turnamen empat tahunan itu bukannya tanpa permasalahan. Piala Eropa kali ini sudah dibayang-bayangi oleh serangan teroris ke jantung Paris, November 2015 lalu, yang di antaranya turut melibatkan aksi upaya bom bunuh diri pada laga antara Perancis dan Jerman di Stade de France.

Selain itu kepolisian Belgia juga sempat menahan sejumlah teroris yang diklaim berencana melakukan serangan di Piala Eropa. Kejadian serupa pun terjadi di Ukraina ketika negara itu menahan seorang warga Perancis yang membawa banyak senjata dan diduga bersiap melakukan aksi teroris di Perancis.

Berbagai faktor di luar lapangan itulah yang akhirnya membuat Piala Eropa kali ini memiliki banyak dimensi berbeda, membuat penyelenggaraan sebuah turnamen sepak bola tak pernah berada dalam keadaan segenting kali ini.

Sejarah mencatat Piala Eropa perdana, 1960 silam, yang kebetulan dilangsungkan di Perancis, merupakan sebuah turnamen sepak bola perdana antar negara Eropa setelah 15 tahun sebelumnya terlibat dalam perang besar berskala global terakhir yang tercatat di buku-buku sejarah.

Lantas, apakah Piala Eropa Perancis kali ini akan menjadi turnamen terakhir di sebuah era? Entah itu berarti akhir kiprah Inggris di UE maupun menjelang detik-detik akhir runtuhnya mimpi Helmut Kohl dan Francois Mitterand --dua tokoh yang menjadi otak di balik Traktat Maastricht yang menjadi awal UE-- akan bersatunya Eropa?

Apakah nasib UE juga akan seperti Piala Eropa yang perlahan tapi pasti terus mengerucut hingga partai final di Stade de France, Saint-Denis, 10 Juli mendatang?

Akankah nostalgia akan benar-benar menjadi nama lain dari Eropa seperti yang pernah dikatakan penulis Inggris, Angela Carter?

Apapun jawabannya, apapun hasil referendum di Inggris, kemana pun arah UE selanjutnya, hingga siapapun juara Eropa di atas lapangan hijau nantinya, senja sudah mulai menaungi Eropa.

(vws)
ARTIKEL TERKAIT
ARTIKEL LAINNYA
0 Komentar