Karya-karya mereka yang terlihat klasik dipamerkan di Museum Nasional sejak akhir pekan lalu sampai hari ini (25/10). Bersanding dengan karya-karya pelukis asal Indonesia, seperti I Made Wianta, Kartika Affandi, Nyoman Gunarsa, Erica, dan lain-lain.
Dalam tulisannya yang tersaji di buku katalog, kurator Agus Dermawan T. sekilas mengisahkan eksistensi lukisan cat air yang telah “mengibar pesonanya sejak abad ke-tujuh” atau tepatnya, sejak era Dinasti Tan (618-906). Pameran pertama yang digagas Indonesia-China Art Association (ICAA) ini diberi tajuk Hikayat Air. Karena, sebagaimana ditulis oleh Agus, “secara tersirat dan tersurat menceritakan perjalanan lukisan cat air lewat karya-karya terbaru para pelukis cat air.”
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Melukis bukan sekadar melanggeng tradisi, juga mengekspresikan pencapaian meditasi,” kata Hong dalam bahasa China yang diterjemahkan oleh Aulia dari ICAA. “Meditasi menggiring pada mencapai ketenangan batin yang diungkapkan melalui lukisan.”
Hong membiarkan penikmat seni menerka sendiri objek tersebut. “Tidak ada nama pasti, tidak bisa dipaksakan ini apa. Abstrak. Silakan kembangkan sendiri sesuai imajinasi masing-masing. Boleh menyatakan ini sebagai suatu benda, batu atau telur, terserah,” kata Hong.
Dari “titik abstrak” di bagian bawah, sapuan kuas diarahkan oleh Hong ke bagian atas untuk memvisualkan gejolak air. Sesuai filosofi meditasi: pemikiran dari hati atau titik insting berkembang menjadi pusat fokus yang melahirkan daya untuk melakukan sesuatu.
Nothing melukiskan “air sebagai benda yang berwujud namun tidak berwujud. Ia ada, lalu mengalir menuju tiada. Selagi mengalir, ia berdaya mengasah bebatuan.” Begitu diterangkan oleh Hong, barulah memaknai sapuan sebidang hitam, bebatuan, “titik abstrak” dan gejolak air di lukisannya.
Lukisan Nothing dipajang bersebelahan dengan lukisan lain kreasi Hong yang berukuran lebih
besar, menggambarkan bebatuan dalam jumlah lebih banyak. “Saya memang suka batu dan air. Air lambang kebajikan, mampu membuat batu menjadi berharga, tanpa meminta balasan.”
Hong juga mengaku senang berpartisipasi dalam pameran kali ini. Bertemu dan bertukar pikiran dengan para pelukis membuatnya antusias dan mendapat inspirasi untuk melukis lagi. Melestarikan tradisi bangsanya yang telah berlangsung belasan abad.