Kini, film Senyap 'pulang kampung'. Film yang berkisah soal Adi Rukun, seorang ahli mata yang keluarganya menjadi korban pembantaian itu diputar di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Senin (10/11) sore ini. Ribuan orang mengantre, termasuk para korban 1965.
Eka, salah satu panitia dari Komnas HAM menyatakan, pihaknya memang mengundang korban 1965 dari panti jompo Waluyo Sejati di Kramat Jati. "Kami undang atas satu nama, yang datang berapa ya belum menghitung, katanya pada CNN Indonesia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Suami saya tertangkap. Dulu kan yang dikira PKI ditangkap. Tapi saya enggak," ujarnya menuturkan. Kala itu, usia Tahrin 26 tahun. Tahrin sendiri mengaku ia bagian dari Gerwani, gerakan pemberdayaan wanita yang lekat dengan PKI.
Ia dan kawan-kawannya datang karena ingin melihat film tentang pembantaian yang pernah dialaminya dahulu. "Kami ada sekitar 8 atau 10. Kami ini korban," katanya singkat.
Saat ini, penonton bersiap menyaksikan film yang merupakan kerjasama Oppenheimer dengan sineas dan aktivitas Indonesia. "1965 adalah titik awal pelanggaran HAM di Indonesia. Dari situ rezim ketakutan, senyap, mulai terbentuk. Tahun 1965 membuat seluruh rakyat Indonesia trauma," ujar Oppenheimer dalam konferensi pers melalui Skype.