(Baca Juga: Laksmi Pamuntjak 'Terlambat' Empat Bulan)
"Nama Aruna saya ‘curi’ dari nama seorang remaja cantik jelita, Aruna Anderson, anak teman baik saya," ia mengungkapkan. "Saya suka nama Aruna—selain tidak pasaran, kesannya anggun, misterius, kuat dan berpendirian. She knows who she is. Kebetulan ibu Aruna Anderson, Avi Mahaningtyas, seorang aktivis lingkungan hidup, adalah juru masak yang terhebat di kalangan teman-teman saya."
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sama halnya dengan Aruna, dua tokoh lain dalam novelnya, Bono dan Nadezhda, juga kombinasi sifat sejumlah orang yang dikenal dan dibayangkan Laksmi. Bono memiliki intellectual curiosity tentang makanan, piawai meramu menu Barat dan Timur: bakmi foie gras, nasi goreng wagyu, sambal goreng pete di atas seiris ikan tuna goreng. "Bono mengingatkan saya pada Chef Adhika Maxi dari Union."
Demi Aruna dan Lidahnya, Laksmi melakukan riset makanan, juga riset ke rumah sakit atau puskesmas. Dari segi sains dan perkembangan peta politik flu unggas, ia mendapat masukan berharga dari epidemiologis handal Pandu Riono. Dari sinilah, ide untuk mengemas bagian flu unggasnya dalam bentuk political satire yang ringan, untuk menunjukkan realita kebobrokan sistem dan mewabahnya budaya korupsi di Indonesia.
Saat ditanya perihal reaksinya saat merebak kasus flu unggas, pada 2004, Laksmi mengaku anaknya malah memelihara banyak unggas. "Sepasang ayam jago dan betina bernama Bailey dan Dahlia. Si Bailey gagah, keren dan suka mematuk tamu. Sementara Dahlia sangat 'seksi,'" kata Laksmi yang juga memelihara sepasang burung merpati, Maximus dan Sharlinda.
Atas permintaan keluarga besarnya, unggas-unggas ini terpaksa diungsikan. Sedih, Laksmi pun melakukan semacam 'silent protest,' tetap menyantap masakan ayam, bebek dan burung puyuh. Begitulah Laksmi, memang sulit dipisahkan dari makanan. Akhir November nanti, ia siap tampil di sebuah festival di Kemang yang berfokus pada sastra dan kuliner. Berikutnya, ia juga berencana membuat Festival Mie besar-besaran di Jakarta.