Sebenarnya bukan tidak mungkin bagi Indonesia untuk memproduksi film animasi. Di sini, tersedia banyak sumber daya animator andal. Sayangnya, mereka lebih memilih bekerja untuk perusahaan dan studio luar negeri.
Tapi Indonesia akhirnya punya kebanggaan. Battle of Surabaya, sebuah film yang didaulat menjadi film animasi layar lebar pertama karya anak bangsa, akan segera tayang pada Agustus 2015.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tokoh utamanya bernama Musa, seorang anak yang berprofesi sebagai tukang semir sepatu yang merangkap jadi kurir surat rahasia.
Walaupun film ini berlatar belakang sejarah, namun genrenya drama fiksi. "Kami memang mengangkat dari yang ada, tapi dijadikan fiksi," ujar Erika.
Trailer film yang menghabiskan waktu produksi hampir tiga tahun itu bakal diputar secara khusus dalam XXI Short Film Festival yang akan diselenggarakan pada 18-22 Maret 2015.
Festival Director XXI Short Film Festival, Catherine Keng berharap, dengan tersedianya wadah untuk film-film animasi dalam festival, banyak lahir animator baru dalam dunia perfilman Indonesia.
"Jadi kita kasih harapkan bagi animator Indonesia bahwa mereka punya wadah," ujar Catherine.
Butuh Rp 15 miliar
Berbeda dengan film reguler, membuat film animasi memang tidak mudah. Selain membutuhkan sumber daya yang banyak, film animasi juga membutuhkan biaya yang besar dan proses yang panjang.
"Membuat trailer-nya saja membutuhkan waktu satu tahun, padahal durasinya tidak sampai tiga menit. Kalau filmnya kita butuh hampir tiga tahun. Ini yang susah dari proses animasi karena membutuhkan waktu yang lama," papar Erika.
Selain itu, sumber daya yang sedikit juga menjadi hambatan lain. "Mengumpulkan tenaga kerja ahlinya sulit karena kebanyakan yang ke luar negeri. Akhirnya kita coba mengaderkan junior untuk menggantikan senior," cerita Erika.
Biaya yang dihabiskan untuk membuat film animasi pun sangat besar. Untuk ongkos produksi film animasi Battle of Surabaya tak kurang Rp 15 miliar.