(Baca Juga: Putra Toba Penggawa Sastrawan 45)
Sitor layak disebut “berbahaya,” karena menurut Suma Mihardja, rezim Orde Baru takut pada sang penulis. Mantan Komisioner Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi yang menangani Peristiwa 65 ini pernah menangani kasus Sitor.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Pada saat itulah dia merasakan bagaimana rasanya menjadi ‘barang’ yang diserahterimakan dari pihak penahannya ke pihak keluarganya,” demikian ditulis oleh Suma, seraya menganalogikan Sitor tak ubahnya mobil.
Suma menuliskan, rezim Orde Baru takut terhadap Sitor. Bila sudah begitu, rezim ini siap memberangus siapa saja yang dianggap membahayakan kekuasaan, sekalipun ia “hanya” seorang penulis.
“Saya bukan orang politik,” kata Sitor semasa hidup dalam wawancara dengan sebuah media cetak, beberapa waktu lalu. “Saya aktif dengan cara saya, tetapi tidak berambisi jadi anggota Parlemen."
Selama kebebasannya terbelenggu, Sitor merasa dirinya manusia yang bukan manusia. Padahal sesungguhnya, sebagaimana ditulis oleh Suma, esensi menjadi “orang” adalah esensi kemanusiaan yang mendasar.
Sitor lahir Harianboho, Sumatra Utara, 2 Oktober 1923. Dikenal sebagai penulis multitalenta yang melahirkan seabrek karya, dari puisi, esai, cerita pendek (cerpen), juga jurnalisme dan kritik sastra, di sejumlah media cetak.
Sempat menempuh pendidikan sinematografi di University of California (1956–57), namun agaknya ranah sastra lebih menarik minatnya. Usai merilis puisi pertama Kaliurang (1948), ide-ide berikutnya seolah tak terbendung.
Era 1950-an, Sitor hijrah ke Eropa untuk melanjutkan studi, dan merilis kumpulan puisi Surat Kertas Hijau (1954). Satu dekade kemudian, ia dipenjara oleh rezim Orde Baru, dan dibebaskan pada 1976, tanpa prose pengadilan.
Bebas merdeka, Sitor kembali aktif menulis, hingga lanjut usia. Satu dekade lalu, ia merilis Lembah Kekal (2004) dan Biksu Tak Berjubah (2004). Ia juga sempat mengikuti Ubud Writers and Readers Festival 2010.
“Ketika otak tak lagi berpikir, pikiran tak lagi bekerja, maka kehidupan pun tak lagi berjalan,” kata Sitor saat merayakan ulang tahun ke-85 di Erasmus Huis, Jakarta. Agaknya tak ada yang mampu menghalangi ide-ide sang "penulis berbahaya."