Sang kreatornya adalah Agus Suwage, seniman asal Indonesia yang sudah melanglang buana dengan karya-karya. Ia aktif berpameran di berbagai kota di dunia, seperi Berlin dan New York.
Melihat ukurannya yang besar dan materinya yang unik, tak sedikit pengunjung sejenak mematung mengamati kolase yang membentuk gambar diri lulusan desainer grafis ITB.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lewat Tolerance Wall, Suwage menggambarkan keberagaman religi. Tak ketinggalan praktisi animisme di Jawa yang coba dipaksakan oleh rezim Orde Baru untuk bermonolitik.
Hadirnya beberapa speaker audio pada kolase yang membentang dari kanan ke kiri, seolah mengiris telinga, hidung, dan matanya, bukannya tanpa makna.
Peranti yang membuat wajahnya seolah terbelah ini menggambarkan kesombongan pada indra dan tantangan dualisme dan holisme dalam masyarakat fundamentalis.
Dalam gambarnya, seniman berusia 54 tahun ini memakai kacamata tebal dan topi fedora. Menatap ke depan sembari tersenyum, menyiratkan optimisme dan rasa percaya diri.
Ini bukan pertama kali Suwage menampilkan gambar diri. Karyanya yang lain Cycle #3 juga menampilkan gambar diri. Gagasannya untuk eksis, berbalut nuansa teatrikal yang menarik.
(vga/vga)