Karier bermusik Fariz dimulai sejak tahun 1977. Saat itu, Fariz beserta teman-teman sekolahnya di SMA Negeri 3 Jakarta mengikuti Lomba Cipta Lagu Remaja yang diadakan Radio Prambors Jakarta.
Pada awal dekade 1980-an, lagu-lagu ciptaannya, seperti Barcelona dan Sakura, meledak dan mampu melejitkan namanya di pasar musik Indonesia. Konsep musik Fariz yang segar dan manis membuatnya mampu mewarnai khazanah musik nusantara pada era tersebut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hingga kini, pria berusia 56 tahun ini tercatat telah menelurkan 21 album solo, tiga album duet, 12 album grup, dan sebuah album kompilasi. Tidak mengherankan jika majalah Rolling Stones Indonesia menganugerahi "Rolling Stones The Immortals". Penghargaan ini merupakan apresiasi terhadap karya-karya para legenda musik Tanah Air.
Saat berkonser bersama sejumlah musisi ikonik '80-an, pada pertengahan November 2014, Fariz masih sakti di atas panggung. Namun saban menuntaskan satu lagu, saat menyapa penonton, terdengar napasnya tersengal. Dengan nada canda ia mengatakan, "Napas harus diirit-irit."
Meminjam istilah mendiang pengamat musik Denny Sakrie, perjalanan karier musik Fariz bak bianglala yang sarat warna. "Perjalanan karier musik Fariz RM yang dimulai sejak tahun 1977 hingga sekarang ini bagai bianglala, sarat warna. Saya yakin Fariz tak akan meninggalkan atau menjauhi dunia musik. Karena kemampuan bermusik itu anugerah," tulis Denny di blog pribadinya, sehari sebelum kematiannya.
Ironisnya, kiprah Fariz yang cemerlang di bidang musik berbanding terbalik dengan kebiasaan buruknya mengonsumsi obat-obatan terlarang. Oktober 2007 silam, Fariz ditahan akibat menikmati ganja. Hari ini Selasa (6/1), dia kembali ditangkap karena mengonsumsi obat terlarang yang sama.
(rsa/vga)