Surat itu diawali dengan seruan Salam Reformasi. Lebih dari 25 aktivis yang menulis nama di bawah pesan, menyepakati isi surat yang menganggap film Lukman tidak sesuai situasi dan kondisi tahun 1998. Salah satunya, film berjudul Di Balik 98 itu menunjukkan bendera PRD (Partai Rakyat Demokratis) berkibar di tengah aksi demonstrasi mahasiswa di depan Gedung DPR/MPR.
"Gerakan Mahasiswa 1998 bebas dari partai politik termasuk PRD, yang tidak membangun basis kampus," tulis mereka dalam surat somasi. Para aktivis itu sepakat, berkibarnya bendera PRD di film itu adalah bentuk pembelokan sejarah. Ditambah lagi, Lukman dinilai salah mengenakan jaket almamater.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lukman bahkan tidak menyiapkan penasihat hukum karena memang tidak menyangka filmnya bakal berakibat seserius ini. Apalagi, sejak awal ia memang tak berniat menjelekkan pihak mana pun. Jika ada yang ingin menyomasi, ia tidak melarang. "Hak mereka melakukan somasi, sebagai warga negara hukum," ucapnya lagi.
"Yang jelas semua ada datanya. Adegan itu ada di buku-buku," ujar Lukman menegaskan. Tapi ia tak memungkiri, filmnya juga ada dramatisasi. Ada interpretasi atas adegan. Soal bendera PRD yang dipermasalahkan misalnya, Lukman bisa menjelaskan dengan logika sederhana. "Saya anggap itu lembaga masyarakat. Ya, sesimpel itu saja," ia menuturkan, masih bernada santai.
(rsa/vga)