Berikut profil singkat keempat kartunis korban penembakan biadab tersebut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Stephane Charbonnier
Stephane Charbonnier, pemimpin redaksi Charlie Ebdo yang menjadi target dari Al-Qaeda. (Fred Dufour/Getty Images)
Pria yang akrab disapa Charb ini selain menjadi jurnalis majalah satir, pernah bekerja di berbagai media seperti L'Echo des savanes, Telerama, L'Humanite.
Kartunis asli Perancis itu sering menghasilkan karya kartun berupa feature yang menyuarakan kritik, salah satunya adalah Maurice et Patapon. Daniel Leconte, seorang yang pernah membuat dokumenter mengenai Charlie Hebdo, menggambarkan sosok Charb sebagai sosok yang ramah, lucu, dan bukan doktriner.
Charb memang terkenal seringkali membuat kartun satir yang kontroversial. Dirinya termasuk yang mendukung kebebasan berpendapat.
Larangan menggambar sosok Nabi Muhammad oleh Pemerintah Perancis pernah dilanggarnya pada 2012 yang mengakibatkan kantor media tersebut dibom oleh golongan ekstrimis Islam dan membuatnya menjadi target dari Al-Qaeda.
Jean Cabut
Anggota tim kartun Charlie Hebdo, Jean Cabut. (Bertrand Guay/Getty Images)
Leconte menggambarkan Cabu sebagai sosok seniman, penyair, dan wartawan yang baik. Cabu selalu menggambar dan membuat sketsa di mana pun ia berada.
Dirinya seringkali menggambar politisi, seperti dalam karyanya Zero Croissance yang menggambarkan Presiden Perancis, Francois Hollande dengan pakaian penjaga pantai dan membiarkan orang-orang yang berenang akan tenggelam.
Ia selalu menggambarkan topik-topik hangat yang sedang dibicarakan, termasuk penggambaran sosok Nabi Muhammad.
Georges Wolinski
Mantan pemimpin redaksi Charlie Hebdo, Georges Wolinski. (Ulf Andersen/Getty Images)
Seniman dengan nama lengkap Georges David Wolinski tersebut memulai menjadi kartunis di media Rustica pada 1958. Leconte menjabarkan sosok Wolinski seperti Charb, mencintai kebebasan berpendapat, kehidupan, alkohol, dan perempuan.
Wolinski termasuk seniman yang produktif dan menggambar karikatur tanpa merasa ada hal yang dianggap tabu, entah gerakan feminis ataupun agama.
Ia juga pernah tercatat sebagai pemimpin redaksi Charlie Hebdo dari 1961 hingga 1970. Dirinya pernah mendapatkan penghargaan Legion of Honour, gelar kehormatan tertinggi yang ada di Perancis, pada 2005.