Resensi Film

The Imitation Game: Memenangkan Perang dengan Teka-teki

Rizky Sekar Afrisia, CNN Indonesia | Jumat, 16/01/2015 18:05 WIB
The Imitation Game: Memenangkan Perang dengan Teka-teki Alan Turing (Benedict Cumberbatch) dan mesin pintarnya di film The Imitation Game (Dok. The Weinstein Company)
Jakarta, CNN Indonesia -- Film perang tak pernah lepas dari desing peluru, gelegar bom, dan derap sepatu tentara. Tapi film perang yang satu ini justru senyap. Sutradara Morten Tyldum memfilmkan Perang Dunia II dari sudut yang benar-benar berbeda. Jauh dari Saving Private Ryan, Band of Brothers, The Thin Red Line, maupun Lone Survivor.

Kemenangan sekutu dalam Perang Dunia dikisahkan Tyldum lewat sosok Alan Turing, yang diperankan oleh Benedict Cumberbatch. Ia pemuda 27 tahun yang genius di bidang Matematika. Turing berprofesi sebagai dosen di King College, Cambridge. Hobinya memecahkan teka-teki.

Suatu hari, langkah Turing sampai di Bletchey Park, lokasi pembuatan radio. Di balik itu, ada sebuah misi militer super rahasia yang diincar Turing. Ia ingin memecahkan kode Enigma. Penuh percaya diri dan kesombongan, Turing yakin bisa mengenkripsi kode komunikasi pasukan Jerman. Meskipun, ia tak pernah bisa bahasa Jerman.


Turing yang selama ini sangat penyendiri, harus bergabung dalam sebuah tim kecil yang terdiri atas orang-orang terbaik di Inggris. Bertahun-tahun, mereka berupaya melampaui 159 juta juta juta kemungkinan pecahnya kode Enigma.

Berbagai gejolak ia lalui. Mulai kebencian rekan kerja, tekanan komandan, tudingan mata-mata Uni Soviet, sampai gosip homoseksual membayangi hidup Turing. Ia terus maju. Turing menggagas mesin pintar yang bisa mengenkripsi kode sesulit apa pun, tak hanya Enigma.

Film yang meraih tujuh nominasi dalam Academy Awards 2015 termasuk Film Terbaik itu, diinspirasi dari kisah nyata. Penulis skenario Graham Moore mengadaptasi kisahnya dari buku karya Andrew Hodges, Alan Turing: The Enigma.

Turing merupakan sosok pahlawan yang jauh dari buku-buku sejarah. Namanya tak tercatat sebagai pahlawan perang, meski karyanya mampu memperpendek Perang Dunia II sampai dua tahun dan menyelamatkan sampai 14 juta jiwa. Baru setelah meninggal Turing diakui perannya.

Ia membawa mati rahasia militer terbesar Inggris sampai 50 tahun. Operasi yang disebutnya sebagai "Ultra". Meski sosoknya menyebalkan, Turing layak disebut penyelamat.

Seperti kalimat yang selalu menjadi favorit Turing, "Terkadang, orang yang tak pernah dibayangkan melakukan sesuatu yang tak pernah dibayangkan orang."

Dan lewat The Imitation Game, Tyldum sukses menghadirkan kembali sosok Turing ke masa modern. Hanya dalam 114 menit, penonton bisa menyelami kehidupan dan mengenal baik sosok Turing. Tyldum merangkum itu semua lewat kekuatan karakter yang digambarkan Cumberbatch, dialog yang diucapkan, serta alur film yang dibuat maju-mundur untuk lebih mendalami kompleksitas pemikiran Turing dan alasan-alasan di baliknya.

Ia juga mengawali film dengan memikat. Penonton bioskop seperti diajak berbicara dengan suara berat Cumberbatch: "Apakah kau memperhatikan?"

Yang juga membuat film Tyldum berbeda, ia hanya sedikit memasukkan kisah cinta. Penonton dibawa hanyut hanya pada sosok Turing, tak ada yang lain. Namun, ia juga menyelipkan nilai-nilai gender, persahabatan, kepercayaan, analisis masalah, serta kemampuan menjaga rahasia.

Bukan hanya itu, Tyldum juga sama sekali tidak memunculkan sudut pandang Amerika. Itu yang membuat The Imitation Game berbeda cita rasa dengan film perang lainnya. Tyldum menampilkan sosok di balik pemenang perang yang sesunggunya, bukan sekadar serdadu di lapangan.

Cumberbatch pun tidak ketinggalan sebagai penguat rasa film. Pengisi suara naga Smaug dalam film The Hobbit itu berhasil menunjukkan ekspresi sombong, tidak percaya, introver, gelisah, sedih, sampai tak berdaya saat hidupnya berakhir di bibir penjara. Sementara Keira Knightley yang memerankan Joan Clarke, berhasil sebagai salah satu pemanis film.

(rsa/vga)


ARTIKEL TERKAIT