Namun menurut Pipin Tobing, ilustrator yang juga penggemar komik di Indonesia, manga tidak bisa selalu dianggap berdosa. Diwawancara CNN Indonesia melalui telepon pada Senin (19/1), ia justru menyebut membaca komik punya segudang manfaat bagi anak-anak dan remaja. Salah satunya, adalah mengasah imajinasi.
"Manfaat positifnya, manga bisa mengasah imajinasi. Karena ekspolarasi cerita di manga bahwa imajinasi itu tidak terbatas. Menurut saya, itu satu hal yang positif bahwa imajinasi atau cita-cita itu tidak terkungkung oleh kondisi yang ada sekarang," Pipin mengatakan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya dapat menggambar dan penghasilan dari gambar juga karena dulu baca komik," ucapnya.
Meskipun manga bisa mengajarkan nilai pantang menyerah dari Jepang dan menemani anak menghadapi masa kesepian, ia juga bisa jadi masalah. Jalan tengah memperbaikinya, menurut Hikmat, adalah media literasi.
Menurut Hikmat, orangtua penting memilihkan atau mendampingi anak saat membaca manga. Mereka harus mampu membuat anak kritis terhadap bacaannya. Masalahnya, hanya orangtua modern yang besar di tahun 1990-an yang bisa melakukan itu. Lainnya, kebanyakan konservatif.
Kekritisan orangtua diperlukan, kata Pipin, untuk membatasi imajinasi anak yang dikembangkan liar oleh manga. "Saya juga dulu mengalami mengagumi satu karakter sampai mengikuti. Tetapi kita lihat juga, sampai sebatas mana mengikutinya. Contohnya, Spiderman. Kita bisa terbang kan tidak mungkin. Kita harus tahu batasannya," ujarnya.
Menurut Pipin, beberapa kalangan anak sudah punya daya kritis masing-masing. Mereka mengoleksi atribut Naruto, tetapi tidak berbuat ekstrem sampai meniru jurus-jurusnya. Lain halnya dengan sebagian anak lain yang terekspos komik di atas umur dan tanpa pendampingan.
Kata Hikmat, terekspos manga terus-menerus membuat pembaca rileks atau toleran terhadap muatan yang di Indonesia dianggap tabu. Misalnya, lelucon tentang seks atau kekerasan.
Untuk itu, perlu ada pengetatan di bidang distribusi manga, seperti di Jepang. "Di Jepang banyak produksi komik dan dijual secara terbuka, tetapi tidak bebas. Tempatnya jelas, rating jelas, dan hukumnya jelas. Di convenient store ada rak komik untuk anak-anak hingga dewasa, Kalau ada anak kecil yang beli, mereka tidak akan mendekati rak dewasa," tutur Hikmat menjabarkan.
Pengawasan juga dilakukan bahkan oleh para penjual manga. Jika ada anak-anak yang ke rak komik dewasa apalagi membelinya, akan ada hukuman tertentu. "Jadi dijual terbuka tapi tidak bebas, karena hukumnya jalan," ucap Hikmat. Ia berharap, Indonesia juga bisa.
(rsa/utw)