Semangat untuk berani hidup, sekalipun dibayangi penyakit paling mematikan HIV/AIDS, inilah yang melatari penggarapan film Nada untuk Asa yang disutradarai dan diproduseri Charles Gozali.
“Film ini memang dipersembahkan bagi orang-orang yang berani hidup,” kata Charles saat bertamu di kantor CNN Indonesia, baru-baru ini, “sekaligus mengajak orang untuk berani hidup.”
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Semasa hidup, suaminya tak pernah menyambangi lokalisasi atau panti pijat. Namun mengaku pernah berselingkuh sekali saat mengikuti pendidikan di Bandung.
Dalam film ini, sosok Yuke digambarkan lewat karakter Nada (60) yang diperankan Marsha Timothy. Sementara anaknya digambarkan berusia jauh lebih dewasa, Asa (27), dan diperankan Acha Septriasa.
Charles Gozali (baju biru), sutradara Nada untuk Asa. (CNN Indonesia/Kiky Makkiah) |
Nada dan Asa digambarkan sebagai dua pribadi yang berbeda, sekalipun mengidap penyakit yang sama. Nada mewakili sosok yang nyaris pesimis, sementara Asa menggambarkan sosok optimis.
Charles tak ingin alur filmnya terlalu drama atau mengumbar kesedihan, sebagaimana ia istilahkan, “Sudah jatuh, tertimpa tangga, digigit anjing, dan seterusnya.”
Diakui Charles, terdapat stigma yang memberatkan para pengidap HIV/AIDS hingga mereka pun dikucilkan di tengah masyarakat. Lewat film ini, Charles berusaha meretas stigma tersebut.
“Life must go on. Kita sendirilah yang membangkitkan diri kita untuk bisa keluar dari masalah, bukan menunggu orang lain yang memulainya,” kata pria yang menekuni sinema secara autodidak.
Charles lalu menceritakan serunya syuting bersama bayi-bayi, dan kondisi Marsha yang terkuras emosi setelah melakukan suatu adegan, serta ketegangan yang membuat pembuluh matanya pecah.
Sineas yang berpengalaman menggarap film Finding Srimulat ini, berharap Nada untuk Asa bisa membuat penonton percaya dan terinspirasi semangat untuk berani hidup.
(vga/vga)
Charles Gozali (baju biru), sutradara Nada untuk Asa. (CNN Indonesia/Kiky Makkiah)