Penamaan itu tak sembarangan. Katjoetangan merupakan sebuah wilayah di Malang yang pada era 1960 hingga 1970-an menjadi pusat kegiatan seni pemuda. Dari komunitas semata, museum musik pun terbentuk. Tujuannya, pengarsipan.
Museum Musik Indonesia bagai ruang data perjalanan musik Indonesia. Di dalamnya, terdapat koleksi barang yang berkaitan dengan musik, mulai piringan hitam, kaste, CD, VCD, pemutar musik, instrumen, memorabilia, foto, poster, majalah, buku, kliping tulisan, sampai beragam alat musik modern dan tradisional.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Museum itu tak dibiayai pemerintah, hanya kepedulian masyarakat yang terwujud dalam ruang sederhana di kawasan Griya Shanta, Malang, Jawa Timur. Masuk ke dalamnya, berbagai album musik langsung menyapa. Mereka tersusun rapi di rak-rak yang memenuhi empat sisi dinding.
Mengapa dibuat di Malang? Itu tak lepas dari sejarah Kota Apel dan musiknya. Beberapa musisi asal Malang cukup disegani di belantika musik Indonesia sejak 1970-an.
Di antaranya, Ian Antono yang menjadi gitaris God Bless dan Sylvia Saartje yang dikenal sebagai lady rocker pertama di Indonesia. Merasa sejarah musik tak bisa dipisahkan dari Malang, dibentuklah Museum Musik Indonesia.
Museum itu pun sudah banyak mendapat kunjungan artis. Beberapa yang pernah menginjakkan kaki di sana adalah Ian Antono, Ahmad Albar, Sylvia Saartje, Anang dan Ashanty, White Shoes and the Couples Company, bahkan segahar Burger Kill. (rsa/vga)