Koor menjadi semakin lantang saat Iga Massardi, gitaris dan vokalis, berlari meninggalkan panggung untuk mendekat ke arah penonton sembari mengacungkan mic. Bersama, menyanyikan penggalan lagu Api dan Lentara. Lagu pamungkas yang sukses memanaskan suasana.
Barasuara digawangi Iga Massardi, juga TJ Kusuma (gitar), Gerald Situmorang (bass), Marco Steffiano (drum), serta tiga penyanyi latar. Mereka menjadi penampil ke-lima, setelah grup band Bookstore Club, Selimut Cokelat, Circarama, Jirapah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Puncaknya, saat Barasuara naik ke atas panggung, pukul lima sore lewat beberapa menit, penonton semakin merangsek ke bibir panggung. Konser sebenarnya pun dimulai. Empat jam pertama perhelatan Muga dipanaskan oleh Barasuara.
“Kami cuma punya delapan lagu,” kata Iga berkilah saat para penonton menagih encore. Sebagian besar lagu Barasuara diciptakan oleh Iga, seperti Tarintih, Bahas Bahasa, Semua Menjadi Abu. Kekhasan band ini: “memainkan musik dari Indonesia dengan bahasa Indonesia.”
Iga membentuk Barasuara pada 2011. Diakui, ia mengadaptasi pengaruh musik dunia, dari Afrika, Jepang, India, dan Inggris. Di laman akun Facebook Barasuara, Iga menyatakan keinginannya membawa musik Barasuara “menuju sebuah tempat di mana musik Indonesia menjadi semakin mendunia.”
Secara musikal, penampilan Barasuara sangat mumpuni. Berjubelnya penonton yang memenuhi Skeeno Hall menjadi bukti kesaktian para personel Barasuara dalam bermusik.
Iga, yang seperti biasa mengenakan kemeja batik, pun suka cita menyambut antusiasme penonton, “Antusiasme seperti inilah yang membuat saya tak ingin berhenti bermusik.”
(vga/vga)