Dalam sepekan lawatannya di Jakarta, pria Finlandia ini menyempatkan bertemu awak media di kawasan Kuningan (19/3). Ditemani dua penerjemah bahasa isyarat, juga perwakilan Kedutaan Besar Finlandia, Signmark memaparkan kisah suksesnya.
“Ketika saya menyampaikan keinginan bermusik, hampir semua orang, dari orang tua, guru, sampai teman-teman, menyelepekan saya, ‘Sudahlah, kamu kan, tuna rungu, mana bisa bermain musik,’” katanya dalam bahasa isyarat. Namun ia tak gentar.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Gerak dan ekspresi jadi melodi
Dengan gaya kocak, Signmark menirukan gaya musisi. “Anda pasti biasa melihat ekspresi seperti ini kan, atau ini,” katanya sembari meringis menirukan gaya rocker dan hip hoper. Tangannya bergerak seolah bermain gitar, lalu mengacungkan “salam metal.”
Signmark menyadari, “Musik menyatukan banyak orang. Seperti juga olahraga, tanpa perlu banyak kata, tanpa perlu bahasa, semua orang bisa bermain sepak bola. Begitu pula dengan musik, saya bisa merasakan dan memainkannya dengan cara berbeda.”
Gerak dan ekspresi inilah yang kemudian diterjemahkan oleh Signmark menjadi melodi lagu. Ia pun mulai menggarap musik secara bergerilya, dan memamerkan karyanya lewat jalur indie, karena selusin label rekaman di Finlandia menolak dirinya.
Jatuh hati pada hip hop, Signmark tak hanya menggarap musik, juga mengemas pertunjukan bersama kawan-kawannya. “Karena musik tak hanya didengar, juga dilihat. Jadi musik harus dikemas agar indah, mengajak bergoyang, dan happening.” Kini, menyimak aksi Signmark tak ubahnya memirsa aksi Eminem. Seru!
(vga/vga)