Film Wregas yang berjudul Lembusura terpilih menjadi salah satu film pendek yang ditampilkan dalam Berlinale 2015. Film tersebut menceritakan kisah legenda Lembusura, setan yang menyebabkan hujan abu di Jawa.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Di Berlinale, semua sineas menunjukkan kecintaannya terhadap film. Bagi saya itu dahsyat, karena ide mereka sangat beraneka ragam!" kata Wregas kepada CNN Indonesia.
"Saya benar-benar keluar dari kotak saya dan merasa benar-benar kecil di dunia ini. Orang-orang sangat menghargai film di sana," katanya alumnus Institut Kesenian Jakarta itu.
Wregas pun sangat terkesan dengan profesionalitas penyeleggaraan Berlinale. Ia merasa puas menikmati karya sineas lain yang diperlakukan dengan sangat baik, selayaknya karya seni yang berharga.
"Yang perlu diperbaiki dari Indonesia adalah bagaimana orang menghargai sebuah film".Wregas Bhanuteja |
"Yang perlu diperbaiki dari Indonesia adalah bagaimana orang menghargai sebuah film, Berlinale sangat menghargai sineas dan karyanya," ujar Wregas.
Selain Wregas, ada film Onomastika karya Loeloe Hendra yang menceritakan seorang anak di Tenggarong, Kalimantan Timur yang tak memiliki nama hingga berusia 10 tahun.
Film Onomastika juga dikompetisikan menghadapi 65 film dari 35 negara di dunia sebelum menuju Berlinale.
Dalam XXI SFF tahun ini, Wregas pun menampilkan salah satu karyanya yang berjudul Lemantun, yang menceritakan tentang sebuah warisan dari orang tua kepada anaknya.
Film Lemantun dijadwalkan akan tayang bersama film pendek kategori Short Fiction Competition lainnya di XXI Epicentrum Kuningan, Sabtu (21/3) pada pukul 15.10 WIB.
[Gambas:Youtube]
[Gambas:Youtube] (ard/ard)