Jay Subiakto, salah satu seniman Tanah Air, mengakui fenomena itu. “Akhir-akhir ini susah bikin konser di Indonesia. Tempat terbatas, harganya mahal, padahal musisi tidak bisa banyak jualan CD, jadi uangnya dari konser yang penyelenggaraannya susah,” katanya.
Electronic City Entertainment termasuk promotor yang banyak mendatangkan artis internasional. Sebutlah Craig David, Linkin Park, Beyonce, Kylie Minogue, dan Taylor Swift. Baru awal Mei mendatang mereka menyelenggarakan konser dengan musisi dalam negeri, Krisdayanti, dalam pertunjukan Traya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Fery mengelak saat ditodong apakah mendatangkan musisi luar negeri lebih menguntungkan ketimbang menggelar konser lokal. Menurutnya, dari segi produksi musisi lokal jauh lebih rumit. “Musisi lokal itu lebih art, jadi butuh waktu lama. Saya bilang musisi lokal itu, apalagi sekelas Jay Subiakto dan Erwin Gutawa, seperti handmade,” katanya.
Sementara musisi lokal, butuh persiapan lama untuk menggelar konser. Sebab, biasanya dibuat dengan sangat serius, menonjolkan seni. “Persiapannya saja butuh lebih dari tiga hari. Ini handmade, seperti masterpiece,” ujar Fery lagi.
Untuk konser Traya saja, Jay memikirkan konsep selama berhari-hari. “Saya sudah 20 kali merancang panggung konser di JCC, sudah bosan. Pendekatan saya sekarang lebih menghargai gedungnya, tidak mengubah, dan menggunakan elemen yang belum dipakai. Saya tidak akan menggunakan lampu di atas, hanya dari belakang dan kiri kanan,” katanya.
Dibandingkan konser musisi luar negeri, biasanya panggung didesain sederhana. Bagaimana itu berdampak pada keuangan? Fery mengakui, dari sisi produksi, penyelenggaraan konser musisi lokal lebih mahal ketimbang musisi luar negeri. “Karena mereka sudah tersistem, kita tinggal menambah. Tapi kalau dari segi biaya artis, tentu saja itu relatif,” ujarnya membocorkan.
(vga/vga)