Belum Sempat Dioperasi, Slamet Abdul Sjukur Berpulang

Rizky Sekar Afrisia, CNN Indonesia | Selasa, 24/03/2015 09:20 WIB
Belum Sempat Dioperasi, Slamet Abdul Sjukur Berpulang Slamet Abdul Sjukur meninggal pada usia 79 tahun. (CNN Indonesia/Kiky Makkiah)
Jakarta, CNN Indonesia -- Salah satu legenda musik Indonesia, Slamet Abdul Sjukur alias SAS tutup usia hari ini, Selasa (24/3). Salah satu murid seninya, Gema Swaratyagita menuturkan pada CNN Indonesia, SAS meninggal pukul 06.00 pagi tadi di Rumah Sakit Graha Amerta Surabaya, Jawa Timur.

SAS meninggal setelah dirawat selama dua minggu di rumah sakit. "Hari Minggu (8/3) waktu ada acara, dia sudah mengeluh tidak enak badan," ujar Gema saat dihubungi CNN Indonesia pagi ini. Sehari kemudian, SAS terjatuh di kamarnya.

Ia langsung dilarikan ke rumah sakit pada Senin (9/3) dan masuk Unit Gawat Darurat. "Tulang pinggul kanannya patah," ujar Gema bercerita. Selama dua minggu dirawat, kondisi SAS naik turun. HB-nya sempat drop. Seharusnya hari ini SAS dioperasi. Namun, kondisinya memburuk.


"Sejak Jumat itu sudah mulai mengigau. Kondisi makin buruk dan pagi tadi sudah enggak ada," Gema kembali menuturkan. Saat ini, ia mengurus beberapa hal teknis terkait kepergian SAS, sang maestro yang meninggal pada usia 79 tahun.

Galang dana untuk operasi

Gema juga salah satu penggagas penggalangan dana untuk SAS. Itu dilakukan sekitar dua atau tiga hari setelah SAS masuk rumah sakit. Dana dibutuhkan untuk biaya operasi dan perawatan. Tidak sedikit pencinta seni yang menyumbang.

Selama dua minggu, Gema mengaku sudah mengumpulkan uang sebanyak Rp 33 juta. "Itu dari sumbangan. Dari keluarga juga ada, jadi semua terkumpul Rp 50 juta," ujarnya menyebutkan. Jumlah itu sebenarnya masih kurang untuk membiayai operasi dan rumah sakit SAS.

"Untuk operasi saja butuh Rp 79,5 juta. Total dengan biaya rumah sakit Rp 110 juta," katanya.

SAS seorang komponis Indonesia berpengaruh. Pria kelahiran Surabaya, 30 Juni 1935 itu disebut sebagai pionir musik kontemporer Indonesia. Karyanya bukan hanya dinikmati di dalam negeri, tetapi juga menembus Eropa. SAS pernah mengenyam pendidikan musik di Perancis bersama Olivier Messiaen dan Henri Dutilleux.

Beberapa karya SAS yang ternama adalah Ketut Candu, String Quartet I, Silence, Point Core, Jakarta 450 Tahun, dan Daun Pulus. Musisi Gilang Ramadhan, Franki Raden, dan Soe Tjen Marching pernah menimba ilmu musik pada SAS.

(rsa/rsa)