Itu diakui Novita saat ditemui di kawasan Menteng, Jakarta, Selasa (7/4). Tak tanggung-tanggung, Novita kini menjadi seorang pemimpin redaksi sebuah majalah di Jakarta. "Suami saya wartawan. Dia duluan yang kerja jadi jurnalis. Lalu dapat tawaran ini," Novita menuturkan.
Sang suami kemudian menawarkan pada dirinya. Merasa tertantang, Novita pun langsung mengiyakan. "Suami saya bilang, 'Kamu bisa.' Saya pikir-pikir, ini memang suatu pekerjaan yang menantang. Saya enggak mau sekadar yang biasa," ujar Novita yang semangatnya tersulut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Membuktikan bukan hanya kepada orang banyak, tetapi juga untuk diri saya sendiri," ucapnya.
Beruntung juga, Novita punya latar belakang sebagai penyiar radio. Sehingga, mewawancarai orang bukan hal sulit baginya. Tantangannya hanya saat harus menuangkan itu ke dalam tulisan. "It's very challenging," katanya.
Mulanya, cerita Novita, ia tidak diharuskan menulis. Pemimpin redaksi hanya diwajibkan mengatur dan mengarahkan apa yang hendak dibahas majalahnya. Namun Novita ingin melakukan lebih. Ia mencoba wawancara, lalu menulis. Ia punya target untuk diri sendiri.
"Sekarang dalam satu bulan at least ada satu artikel yang saya tulis sendiri, walaupun hanya saduran," ujarnya mantap. Novita merasa senang bisa kembali belajar hal baru. "Belajar dan langsung nyebur, kayak kuliah kerja lapangan," ucapnya dengan tersenyum.
(rsa/vga)