Sungguh kontras bila dibandingkan perayaan ulang tahun ikon legendaris lain pada tahun ini, seperti Bob Marley, Elvis Presley, dan Frank Sinatra, bahkan Sound of Music. Mereka, antara lain dibuatkan konser dan film dokumenternya.
Agaknya memang nasib Sir Charles Spencer Chaplin tak jauh-jauh dari pilu. Lahir dari keluarga miskin di Walworth, Inggris, pada 16 April 1889, Chaplin biasa berkawan dengan kesedihan. Semasa sekolah pun ia dianggap underdog.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saat bermain di film bisu The Tramp (1915), Chaplin tampil dengan topi derby, kumis persegi, juga sepatu kebesaran. Tanpa berkata-kata pun, penonton tersenyum, bahkan tergelak melihat tingkah polahnya saat berpantomin.
Sukses di sinema, namun Chaplin gagal di domestik. Bahtera pernikahannya dengan Mildred Harris karam dalam dua tahun. Begitu juga pernikahan berikutnya dengan Lita Grey dan Paulette Goddard. Perceraian mereka jadi skandal di Hollywood kala itu.
“In the end, everything is a gag,” kata Chaplin, pasrah. Namun ia tak main-main saat beropini politik tentang toleransi dan perdamaian. Laman National Review menyebutkan, Chaplin pernah dianugerahi International Peace Prize dari World Peace Council.
“Kita semua ingin saling bantu. Memang begitulah fitrah manusia. Kita ingin hidup dengan kebahagian orang lain—bukan kesedihan orang lain. Kita tak ingin saling benci,” kata Chaplin, suatu kali. Karena itu, ia membagi kebahagiaan bagi banyak orang.
Chaplin meninggal di Swiss, bertepatan dengan Hari Natal 1977. Ia juga tak meninggal dengan tenang, karena beberapa bulan kemudian kuburannya diobrak-abrik maling hanya gara-gara warisan. Dua hari setelahnya, jenazah Chaplin dikubur kembali.
[Gambas:Youtube]
(vga/vga)