Seperti yang diberitakan oleh Billboard pada Jumat (24/4), laporan yang diungkapkan oleh Association of Independent Festivals (AIF) itu bahkan menyebutkan kalau pada tahun 2014 festival musik sudah berhasil menyumbang US$296 juta.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dari laporan tersebut kami menyimpulkan kalau festival musik nyatanya bisa menghasilkan untung dan terus berkembang," kata perwakilan AIF, Paul Reed, dalam pernyataan resminya.
Peningkatan keuntungan juga dipengaruhi oleh naiknya harga tiket festival musik di Inggris. Setiap tahunnya, harga tiket naik sebesar 6,3 persen sejak tahun 2008.
Walau memberi keuntungan bagi perekonomian Inggris, festival musik juga memberi kentungan bagi sang penyelenggara.
Disebutkan AIF, minimal penyelenggara festival musik kecil mendapat keuntungan sebesar US$755 juta.
Tapi maraknya festival musik juga membuat pusing pihak kepolisian di Inggris yang selalu siap sedia jika terjadi gangguan keamanan.
Pihak Kepolisian Inggris mengatakan kalau selama festival musik, beberapa modus kejahatan selalu ditangani mereka seperti pemalsuan tiket, copet, penggunaan obat terlarang dan perkelahian.
Di Indonesia, dengan beragam jenis musik yang ada, penyelenggaraan festival musik selalu terkendala dana dan perizinan. Kalau pun tidak terkendala hal-hal tersebut, penampilan musisinya jadi masalah karena tidak terlalu bisa mendatangkan pengunjung.
Padahal jika benar-benar dikelola dengan konsep yang membuat orang ingin datang, festival musik di Indonesia suatu saat bisa saja menyaingi Coachella atau Lollapalooza.
(ard/ard)