Sebagaimana diketahui, Lola terbilang lekat dengan kaum buruh. Selain pernah menyutradarai dan membintangi Minggu Pagi di Victoria Park (2010) tentang TKW di Hong Kong, juga membintangi Detour to Paradise (2007), memerankan PRT di Taiwan.
“Saya enggak ikut gempita May Day karena sedang bekerja di luar kota,” katanya saat dihubungi CNN Indonesia via sambungan telepon (1/5). “Dan enggak kepikiran juga yah, merayakan Hari Buruh,” ia menambahkan dengan nada canda.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam pengamatan Wajah Femina 1997 ini, pemerintah di tiap negara menerapkan penanganan berbeda terhadap kaum buruh. Kesejahteraan mereka tergantung di mana ditempatkan, baik di Singapura, Malaysia, Hong Kong, maupun Timur Tengah.
Di Indonesia, bintang Ca Bau Kan (2002) ini mengatakan, penanganan buruh akan senantiasa mengalami kebuntuan selama tidak ada ketegasan dari pemerintah, terlebih terhadap para pengusaha yang tidak jujur.
Soal tuntutan kenaikan upah dari parah buruh, Lola menilai, standarisasinya harus jelas dan adil. “Buruh yang lulusan SMA atau bahkan tidak lulus SMA, masa minta standar gaji sama dengan lulusan universitas? Itu kan, enggak wajar.”
Lola tak menampik, problem yang sama juga menyentuh ranah sinema, di mana ada banyak outsource, atau tenaga kerja tidak tetap. “Kebanyakan tidak ada standar gaji,” katanya. “Kami berdasarkan skill. Makin tinggi skill-nya, makin gede gajinya.”
Sejalan dengan itu, sutradara Negeri Tanpa Telinga (2014) ini menegaskan pentingnya mengenyam sekolah, dan tak kalah penting, memiliki skill yang bagus, agar pekerja dihargai layak dan digaji lumayan.
(vga/vga)