Big Game diawali secara menyentak dengan ayah dan anak yang berbahasa Finlandia. Itu hari bersejarah bagi sang anak, Oskari (Onni Tommila). Ia akan berusia 13 tahun. Maka, hari itu ia harus menjalani satu tradisi penting.
Di sebuah suku terpencil di Finlandia itu, 13 tahun adalah usia kematangan. Bocah laki-laki harus bisa menjadi pria. Untuk itu, ia harus diterjunkan ke hutan belantara selama sehari semalam, berbekal busur dan panah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Demi menjaga reputasi, Tapio mengirimkan kepala rusa di tempat rahasia mereka. Oskari bisa pulang menenteng kebanggaan itu. Namun, itu justru membuatnya sedih. Kalau sang ayah tak percaya, bagaimana dengan orang lain?
Sampai suatu saat, Oskari menyadari, Presiden AS bisa menjadi hasil buruan terbesarnya.
Mencampurkan tradisi pedalaman dengan isu terkini soal terorisme merupakan hal baru. Apalagi tokoh utamanya bukan sang presiden, melainkan anak-anak dengan wajah baru. Semua yang terjadi pun dengan sudut pandang bocah.
Sayangnya, konflik teroris yang dimunculkan jadi setengah-setengah. Saat keinginan sang teroris menjadikan presiden sebagai martir untuk diunggah ke Facebook seperti ISIS gagal, tidak ada penyelesaian tuntas yang memuaskan.
Untuk sebuah film laga, Big Game terhitung nanggung. Konflik AS dengan teroris tidak terlalu mencuat. Big Game lebih bercerita tentang konflik remaja yang krisis percaya diri dan hubungannya dengan sang ayah.
Big Game lebih cocok menjadi tontonan bersama anak-anak, yang membuat adrenalin mereka berpacu diiringi cerita soal penyelamatan presiden negara paling adidaya di dunia. Film ini sudah tayang di bioskop Indonesia.
[Gambas:Youtube] (rsa/utw)