35 Tahun di Scientology, Paul Haggis Menyesal
Ardita Mustafa | CNN Indonesia
Senin, 15 Jun 2015 16:14 WIB
Jakarta, CNN Indonesia -- Sutradara dan penulis naskah Paul Haggis mengaku menyesal telah berlama-lama berada dalam lingkaran Scientology.
Dalam wawancaranya dengan Page Six, baru-baru ini, Haggis juga berharap dapat mengulang waktu agar tidak melakukan kesalahan yang sama.
Haggis dan beberapa mantan pemeluk kepercayaan Scientology berbicara blak-blakan dalam film dokumenter Going Clear yang disutradarai oleh Alex Gibney.
Dalam film tersebut, Haggis mengatakan, selama 35 tahun berada di lingkungan Scientology, ia merasa dirinya semakin bodoh dan tidak berkembang.
Going Clear diputar secara perdana dalam Festival Film Sundance tahun ini.
"Saya berharap dapat terbebas dari kebodohan dan melakukan wawancara untuk Going Clear sejak 10 tahun yang lalu," kata Haggis.
Haggis meninggalkan Scientology, sejak 2009.
Pada April, Haggis merasa kelompok Scientology berusaha mengelabuinya kembali dengan cara berpura-pura sebagai wartawan Times bernama Mark Webber.
Webber, melalui sebuah e-mail, berusaha untuk melakukan wawancara eksklusif dengan Haggis.
Haggis dan timnya pun curiga dan mulai melacak dari mana e-mail terkirim.
Ternyata diketahui e-mail berasal dari sebuah komputer yang berada di lingkungan Scientology di Los Angeles, AS.
Haggis dan timnya lalu berusaha menghubungi Webber kembali, namun Webber tidak menjawab.
Mengenai hal tersebut, kelompok Scientology tidak memberikan komentar apa pun.
(ard/vga)
Dalam wawancaranya dengan Page Six, baru-baru ini, Haggis juga berharap dapat mengulang waktu agar tidak melakukan kesalahan yang sama.
Haggis dan beberapa mantan pemeluk kepercayaan Scientology berbicara blak-blakan dalam film dokumenter Going Clear yang disutradarai oleh Alex Gibney.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya berharap dapat terbebas dari kebodohan dan melakukan wawancara untuk Going Clear sejak 10 tahun yang lalu," kata Haggis.
Pada April, Haggis merasa kelompok Scientology berusaha mengelabuinya kembali dengan cara berpura-pura sebagai wartawan Times bernama Mark Webber.
Webber, melalui sebuah e-mail, berusaha untuk melakukan wawancara eksklusif dengan Haggis.
Ternyata diketahui e-mail berasal dari sebuah komputer yang berada di lingkungan Scientology di Los Angeles, AS.
Haggis dan timnya lalu berusaha menghubungi Webber kembali, namun Webber tidak menjawab.
Mengenai hal tersebut, kelompok Scientology tidak memberikan komentar apa pun.
(ard/vga)