Masjid Cut Meutia, dari Markas Belanda sampai Panggung Jazz

Nadi Tirta Pradesha, CNN Indonesia | Senin, 22/06/2015 13:45 WIB
Masjid Cut Meutia, dari Markas Belanda sampai Panggung Jazz Penampilan luar Masjid Cut Mutia yang masih mirip bangunan dari zaman Belanda. (CNN Indonesia/Nadi Tirta Pradesha)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sepintas mungkin Masjid Cut Meutia terlihat seperti bangunan bergaya art noveau peninggalan administrasi Belanda biasa.

Tak banyak yang tahu masjid ini sudah melawati proses panjang, digunakan oleh berbagai institusi negara dan berumur ratusan tahun.

Bangunan bermaterial kapur yang berdiri di Jalan Taman Cut Meutia No.1, Menteng, Jakarta, ini dulunya adalah kantor NV De Bouwpleg sentra bagi arsitek Belanda pada masanya.


Setelah pendudukan Belanda usai, gedung ini sempat beralih fungsi menjadi kantor Wali Kota Jakarta Pusat pada era 60-an, kantor PDAM, kantor Dinas Urusan Perumahan Jakarta dan tentunya Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara pada zaman kepemimpinan Abdul Haris Nasution.

"Pernah DPRD DKI berkantor di sini sekitar tahun '70-an. Banyak lembaga lembaga Islam yang berkantor di lantai atas," tutur Ashraf Ali, selaku Sekretaris Yayasan Masjid Cut Meutia ketika ditemui usai jumpa pers Kansai Paint Warnai Masjid Indonesia 2015, beberapa waktu lalu.

Penampakan mihrab miring yang unik di Masjid Cut Meutia, Menteng, Jakarta. (CNN Indonesia/ Nadi Tirta Pradesha)

Ashraf juga menambahkan bahwa dulu daerah ini adalah pojok Jakarta, "Paling mentok ke Menteng karena Jakarta dibangunnya dari daerah Kota."
Ashraf juga menyebut A.H. Nasution menghibahkan gedung ini kepada masyarakat yang diwakili oleh pengurus yayasan.

A.H. Nasution sebagai ketua MPRS saat itu melihat di Menteng belum ada masjid yang besar, kemudian gedung yang belum berstatus sebagai tempat ibadah ini dihibahkan pada warga.

"Dulu masjid Cut Meutia berdiri di jalan Tanjung, namanya Al Jihad, itu bekas gedung kebudayaan Republik Rakyat Tiongkok. Terus kata Pak Nas, pindahkan saja ke sini, itu tahun 1974," ujar H. Indra Setiawan Harsono mewakili pengurus Masjid Cut Meutia.

Masjid berkiblat miring ini juga dekat dengan keluarga mantan Presiden RI Soeharto yang tinggal di Jalan Cendana. Menurut Ashraf hingga kini anggota keluarga Cendana masih menyantuni makanan berbuka puasa bagi pengunjung yang mencapai angka 100 orang per hari di bulan Ramadhan.

Tak hanya itu, Hutomo Mandala Putra, pada 1980-an, juga sempat merehabilitasi sebagian masjid Cut Meutia.

"Nah, dulunya ada tangga di tengah karena ini kan bangunan rumah. Yang melakukan rehab gedung ini Tommy Soeharto, itu tahun 1980-an, tangga dibangun dan di atas diberi kaligrafi. Pak Harto juga salatnya disini, beliau pulang dari Mekkah sujud syukur pertamanya di sini," jelas Ashraf.

Walau kini sudah menjadi cagar budaya dan tidak bisa sembarangan dipugar, gedung ini pun pernah mengalami kesulitan. Indra berkata bahwa sudah ada masjid pengganti Cut Meutia.

"Kita memperjuangkan gedung ini untuk jadi masjid juga tidak mudah karena beberapa kali mau diambil pemerintah DKI, karena mau digantikan masjid di Jalan Cut Nyak Dhien, tapi kita pertahankan terus," ucap Indra.

Masjid Cut Meutia juga diurus swadaya oleh para pengurus saja. Indra berkata bahwa sebagai pengurus wajib mengurus masjid, kalau tidak mampu jangan jadi pengurus. Yayasan Masjid Cut Meutia juga tidak aktif mencari sumbangan.

"Alhamdulillah kita selalu larang untuk minta sumbangan. Tapi kalau orang mau nyumbang ya syukur. Gara-gara dicat kita beli lampu sorot, sekarang kalau malam masjid ini lebih terang," tutur Indra.

Status Masjid Cut Meutia sebagai cagar budaya membuatnya tak bisa sembarangan dipugar. Ada bagian bagian yang tidak bisa diubah oleh pengurus, maka jika ingin merenovasi harus seizin pemerintah daerah, kemudian tim ahli akan turun dan memberi izin mana saja yang boleh direnovasi.

"Contohnya, ada ubin di lantai dua yang tidak boleh dibongkar, kalau lantai satu sudah diganti marmer semua," ujar Ashraf.

Masjid Cut Meutia kini sedang mengalami pengecatan ulang.  Pengecatan yang tak mengubah warna asli masjid ini.

Masjid tanpa kubah ini tak hanya ramai oleh kegiatan peribadatan internal. Ashraf menyampaikan bahwa pada 26-27 Juni ini akan diadakan Festival Jazz Ramadan.

Bentuk mihrab yang masih mengesankan bangunan lama. (CNN Indonesia/ Nadi Tirta Pradesha)

"Acara Festival Jazz Ramadan ini sudah yang ke-lima. Nanti berbagai musisi jazz tampil secara cuma cuma, berdakwah dengan musik jazz," kata Ashraf.

Yayasan Masjid Cut Meutia juga mengkoordinasi kegiatan ekonomi lingkungan sekitar dan memiliki usaha untuk menghidupi 20 orang pengurus harian.

"Kegiatan ekonomi lingkungan juga kami bangun, membina PKL dan pedagang kecil di sekitar. Kami juga ada travel umrah dan haji, jadi semua kelengkapan di sini kita adakan untuk memudahkan masyarakat dan jamaah dalam memenuhi kebutuhan beribadah," tutup Ashraf

(utw/utw)




ARTIKEL TERKAIT